Gaya Hidup

Apa Itu Impulsive Buying? Kenali Ciri-ciri dan Dampaknya

Penulis: Sarah
Diterbitkan: 26 February, 2026
40
Apa Itu Impulsive Buying? Kenali Ciri-ciri dan Dampaknya

Pernah merasa keinginan untuk memasukkan barang lucu ke keranjang karena ada diskon besar ketika sedang berjalan di toko atau scroll marketplace? Itu merupakan salah satu perilaku impulsive buying.

Impulsive buying adalah aktivitas pembelian yang terjadi karena dorongan sesaat bukan karena direncanakan. Sekali dua kali melakukannya wajar, namun kebiasaan ini bisa membuat dompet cepat tipis dan menyesal jika terlalu sering dilakukan. Oleh karena itu, penting untuk mulai mengontrol belanja impulsif agar keuangan tetap sehat dan keputusan belanja lebih bijak.

Supaya tidak berlebihan, penting bagi Anda untuk memahami apa itu impulsive buying, mengapa fenomena ini mudah terjadi, dan caranya menahan godaan belanja mendadak baca selengkapnya di artikel ini.

 

Apa Itu Impulsive Buying?

Impulsive buying adalah kebiasaan membeli barang atau jasa secara tiba-tiba tanpa direncanakan atau dipikirkan dulu. Biasanya keputusan ini muncul karena dorongan perasaan atau emosi, bukan pertimbangan matang.

Dorongan untuk membeli sesuatu secara tiba-tiba bisa terjadi kapan saja, misalnya saat Anda jalan-jalan di mall, scroll online, atau melihat iklan di media sosial. Contohnya, saat belanja online dan menemukan flash sale atau diskon besar, tanpa pikir panjang Anda langsung membeli produknya.

Sering kali barang yang dibeli sebenarnya belum terlalu dibutuhkan sehingga hanya menumpuk di rumah. Jika kebiasaan ini terus terjadi, keuangan bisa terganggu dan Anda bisa terbiasa boros.

Faktor Pemicu Impulsive Buying

Beberapa faktor bisa memicu kebiasaan ini, mulai dari kepribadian hingga pengaruh lingkungan sekitar. Berikut beberapa faktor pemicu impulsive buying yang perlu diketahui:

1. Kepribadian

Kepribadian seseorang bisa membuat mereka mudah melakukan pembelian impulsif. Misalnya, rasa gengsi atau FOMO (Fear of Missing Out) membuat seseorang ingin punya barang yang sedang populer. Untuk terlihat lebih keren atau populer, orang yang suka belanja impulsif sering kali rela membeli apa saja yang mendukung tujuan itu.

2. Produk dan Desain Toko

Tata letak toko dan penampilan produk bisa membuat konsumen lebih mudah tergoda untuk membeli tanpa direncanakan. Produk dengan kemasan menarik, bentuk unik, atau banyak pilihan biasanya cepat menarik perhatian. 

Jika terlihat terbatas atau langka, orang cenderung ingin membelinya meskipun sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Penataan toko yang rapi, pencahayaan yang sesuai, dan susunan barang yang menarik membuat pengunjung betah dan lebih mudah tergoda membeli.

3. Pengaruh Strategi Pemasaran 

Keinginan belanja yang muncul tiba-tiba juga bisa terjadi karena penjual tahu bagaimana memikat pembeli. Ini yang membuat strategi pemasaran menjadi hal yang berpengaruh. Misalnya, melalui promo, diskon, cashback, atau livestream yang menunjukkan penjual menawarkan barang dengan cara menarik. Hal ini membuat calon pelanggan penasaran dan ingin membeli produk itu segera meski sebelumnya tidak berencana.

Baca juga: Konsumtif Adalah: Pengertian, Faktor Penyebab, Tips Menghindarinya

4. Faktor Sosial dan Kemudahan Akses

Lingkungan sosial dan kemudahan akses juga memengaruhi kebiasaan belanja impulsif. Teman, keluarga, atau orang sekitar yang suka berbelanja bisa membuat seseorang ikut tertarik untuk membeli barang serupa. Selain itu, kemudahan membeli lewat toko online atau aplikasi juga kerap kali mempercepat pengambilan keputusan pembelian.

5. Pengaruh Geografis dan Budaya

Tempat tinggal dan budaya di sekitarnya juga bisa memengaruhi kebiasaan belanja impulsif. Orang-orang yang terbiasa hidup mandiri cenderung lebih sering belanja secara impulsif dibanding yang hidup dalam budaya kolektif. Belanja cenderung menjadi cara untuk mengatasi stres sehingga sering kali banyak orang mencari barang atau pengalaman baru demi membantu merasakan lega sesaat.

Ciri-Ciri Perilaku Impulsive Buying

Perilaku belanja impulsif sering sulit dikenali karena terjadi secara spontan dan dipengaruhi emosi, tapi tidak semua pembelian mendadak termasuk impulsif. Adapun beberapa tanda yang bisa membantu mengenalinya adalah:

  • Belanja dilakukan tanpa rencana atau daftar belanja. Barang yang dibeli biasanya bukan kebutuhan sehari-hari dan kadang hanya dipakai sekali atau bahkan tidak pernah dipakai.
  • Keputusan membeli diambil dengan cepat tanpa pertimbangan matang, sering karena dorongan sesaat atau memberi hadiah pada diri sendiri.
  • Mudah tergoda membeli karena diskon, promosi, atau penawaran terbatas. Rasa takut melewatkan kesempatan membuat orang cepat membeli.
  • Setelah membeli muncul rasa menyesal atau bersalah karena menyadari barang tersebut sebenarnya tidak perlu dan bisa mengganggu anggaran.
  • Membeli untuk mengatasi perasaan negatif seperti stres, sedih, atau bosan. Belanja impulsif sering menjadi pelarian dari masalah emosional.
  • Sulit mengendalikan pengeluaran. Awalnya hanya ingin membeli sedikit, tapi akhirnya membeli lebih banyak dari yang direncanakan.
  • Memiliki banyak barang di rumah yang jarang atau tidak pernah dipakai, biasanya hasil dari pembelian impulsif sebelumnya.

Baca juga: Mengenal Frugal Living, Konsep Hidup Hemat yang Bikin Cepat Kaya

Dampak Impulsive Buying

Jika kebiasaan impulsive buying terus dibiarkan, dampaknya bisa serius bagi kesehatan mental dan keuangan. Beberapa akibat negatif yang sering terjadi antara lain:

  • Menghabiskan uang tanpa disadari sehingga menjadi boros.
  • Menumpuk banyak barang di rumah yang jarang atau tidak pernah dipakai.
  • Mudah terjerat utang apabila tagihan dari kartu kredit, paylater, pinjaman daring, dan sejenisnya menumpuk dan tidak mampu dibayar sesuai ketentuan.
  • Sulit mengatur keuangan karena rencana pengeluaran menjadi sulit dijalankan.

Cara Mengatasi Impulsive Buying

Untuk mengendalikan impulsive buying, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar kebiasaan belanja mendadak tidak berlebihan dan tetap terkontrol. Beberapa cara yang efektif antara lain:

1. Menyusun Skala Prioritas

Salah satu cara mencegah impulsive buying adalah dengan membuat daftar prioritas barang sebelum membeli. Dengan mengetahui mana yang paling dibutuhkan, Anda bisa lebih mudah mengendalikan diri dan membeli hanya barang yang penting, sementara barang yang kurang penting bisa ditunda untuk belanja berikutnya.

2. Batasi Jumlah Alokasi Belanja Online

Mengurangi aktivitas di aplikasi marketplace bisa membantu Anda terhindar dari kebiasaan belanja impulsif. Semakin sering membuka aplikasi belanja, semakin besar pula dorongan untuk membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Untuk itu, sebaiknya batasi jumlah aplikasi belanja online di ponsel atau jarang membukanya, agar keinginan belanja muncul lebih terkontrol dan tidak terjadi secara spontan.

3. Kontrol Penggunaan Kartu Kredit dan Pembayaran Online

Pembayaran digital atau kartu kredit sering membuat pengeluaran terasa tidak terlalu terasa, karena Anda tidak melihat uang keluar secara langsung seperti saat membayar tunai. Akibatnya, Anda bisa lebih mudah belanja tanpa sadar sudah menghabiskan banyak uang. Supaya belanja impulsif bisa dikurangi, cobalah lebih sering membayar dengan uang tunai agar Anda lebih sadar berapa banyak uang yang dikeluarkan.

4. Minimalkan Penggunaan Fitur Paylater

Tips selanjutnya adalah mengurangi kebiasaan memakai fitur paylater. Fitur ini memang terasa praktis, tetapi jika terlalu sering digunakan, pengeluaran bisa jadi sulit dikendalikan. Oleh karena itu, gunakan paylater hanya saat benar-benar dibutuhkan atau dalam kondisi mendesak, agar keuangan tetap aman dan tidak menumpuk tagihan.

5. Mengendalikan Diri dari Godaan Promosi

Lindungi diri dari strategi pemasaran yang sering memanfaatkan sisi psikologis konsumen agar Anda tidak mudah tergoda belanja impulsif. Saat ada sales yang menawarkan produk, Anda bisa memilih untuk menghindarinya. Jika tiba-tiba muncul keinginan membeli sesuatu, segera tinggalkan area perbelanjaan tersebut agar dorongan belanja bisa mereda dan keputusan tetap lebih rasional.

Itulah penjelasan mengenai impulsive buying, mulai dari pengertian hingga cara mengatasinya.  Dengan memahami kebiasaan ini, Anda bisa lebih sadar saat berbelanja dan tidak mudah tergoda membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Mengatur pola belanja sejak awal akan membantu keuangan tetap terkontrol dan terhindar dari pengeluaran yang tidak perlu.

Namun, dalam kondisi tertentu, kebutuhan dana bisa datang secara mendesak dan sulit dihindari. Jika situasi ini terjadi, memilih solusi pembiayaan yang legal dan transparan menjadi langkah yang lebih bijak.

Bagi Anda yang membutuhkan solusi pembiayaan yang dapat diandalkan, BFI Finance dapat menjadi pilihan. Di sini, Anda bisa mengajukan pinjaman dengan agunan BPKB Motor, BPKB Mobil, atau Sertifikat Rumah, Ruko, maupun Rukan sesuai kebutuhan dana.

Layanan BFI Finance telah berizin resmi dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sehingga legalitasnya telah terjamin. Jangan biarkan keterbatasan dana menunda rencana Anda. Wujudkan kebutuhan finansial dengan tepat bersama BFI Finance karena #SelaluAdaJalan untuk setiap rencana Anda.

Baca juga: Bandwagon Effect: Definisi, Faktor Penyebab, Dampak, dan Contohnya

Kategori : Gaya Hidup
Sarah

Sarah

Content Writer & SEO

Sarah merupakan seorang SEO Strategist dan Content Writer dengan pengalaman lebih dari dua tahun di bidang literasi keuangan dan informasi umum seperti gaya hidup, bisnis, serta edukasi publik. Lulusan Ilmu Komunikasi dari Binus University ini memiliki minat kuat pada pengembangan konten yang informatif dan relevan bagi pembaca.