Dalam beberapa tahun terakhir, flexing culture semakin marak, terutama sejak media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Istilah ini merujuk pada kebiasaan seseorang memamerkan kekayaan, kebahagiaan, atau gaya hidup hedonis, mulai dari liburan mahal hingga barang branded, seolah menjadi standar kesuksesan.
Kebiasaan flexing bisa memicu dampak negatif, seperti membuat orang lain merasa rendah diri dan mendorong persaingan gaya hidup yang tidak sehat. Lalu, apakah flexing culture benar-benar layak diikuti atau justru perlu dihindari? Temukan jawabannya dengan memahami penyebab, dampak, hingga cara menyikapinya dalam artikel ini!
Apa Itu Flexing Culture?
Sebenarnya, flexing culture bukan hal baru. Istilah flexing sudah muncul sejak lama, bahkan pernah dibahas dalam buku The Theory of the Leisure Class pada tahun 1899. Secara sederhana, flexing artinya adalah kebiasaan memamerkan barang mewah atau gaya hidup tertentu untuk mendapat pengakuan dan terlihat “mampu” di mata orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, flexing sering terlihat dari unggahan media sosial, seperti menunjukkan barang branded, kendaraan mahal, atau gaya hidup mewah. Tujuannya jelas, yaitu membangun citra sebagai seseorang dari kalangan atas, di mana semakin banyak barang mewah yang dimiliki, semakin tinggi pula status yang ingin ditampilkan.
Padahal, tidak semua yang terlihat mewah benar-benar mencerminkan kualitas atau kondisi asli. Flexing kerap menjadi cara untuk menciptakan citra diri yang belum tentu sesuai kenyataan, baik secara terang-terangan maupun lewat cara halus, seperti humble bragging atau merendah untuk pamer.
Penyebab Flexing Culture
Apa sebenarnya yang mendorong seseorang melakukan flexing? Ternyata, ada beberapa faktor yang menjadi alasan di balik perilaku ini. Berikut beberapa penyebabnya:
1. Insecurity
Rasa insecure atau kurang percaya diri sering menjadi pemicu seseorang melakukan flexing. Saat merasa sedih atau butuh pengakuan, orang cenderung secara impulsif membeli barang mewah untuk menutupi perasaan tersebut. Hal ini juga dijelaskan oleh Martin Lindstrom dalam buku Brainwashed bahwa orang dengan kepercayaan diri rendah biasanya mengandalkan barang high-end agar merasa lebih baik.
2. Masalah Kepribadian
Selain itu, flexing culture juga bisa dipengaruhi oleh masalah kepribadian. Ada orang yang cenderung selalu butuh validasi dan ingin terlihat paling unggul dibandingkan dengan orang lain sehingga mendorongnya untuk terus pamer.
3. Kurangnya Rasa Empati
Kurangnya empati juga bisa memicu flexing. Seseorang sering kali tidak menyadari dampak dari perilakunya, padahal kebiasaan pamer ini bisa membuat orang di sekitarnya merasa tidak nyaman.
Baca juga: Mengenal Gaya Hidup Konsumerisme: Definisi, Penyebab & Dampak
4. Tekanan Sosial
Dari sisi eksternal, tekanan sosial juga sering jadi pemicu flexing. Demi gengsi dan ingin diakui dalam lingkungan tertentu, seseorang rela membeli barang mewah meski tidak sesuai dengan kemampuan. Akibatnya, hal ini justru membuat diri terasa tertekan dan tidak tenang.
5. Ingin Menunjukkan Eksistensi
Keinginan untuk diakui juga bisa mendorong seseorang melakukan flexing. Banyak orang memanfaatkannya sebagai cara untuk menunjukkan bahwa dirinya “mampu”, apalagi saat kebahagiaan sering diukur dari hal-hal material. Padahal, kebahagiaan tidak selalu soal kekayaan dan bisa datang dari hal sederhana, seperti rasa syukur dan bangga pada diri sendiri.
6. Suka Membandingkan
Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial juga bisa memicu flexing. Ada dorongan untuk terlihat setara, bahkan lebih unggul, sehingga muncul keinginan untuk ikut pamer.
7. Memiliki Dukungan Finansial
Dukungan finansial yang kuat juga bisa menjadi faktor munculnya flexing. Dengan kemampuan ekonomi yang cukup, seseorang lebih mudah mewujudkan gaya hidup yang diinginkan dan menampilkannya di media sosial.
Dampak Flexing Culture
Tidak hanya berpengaruh pada diri sendiri, flexing juga bisa berdampak pada orang lain di sekitar maupun kondisi sosial secara lebih luas. Lalu, apa saja dampak yang bisa muncul? Berikut beberapa dampak dari flexing culture:
1. Mengancam Privasi Data Pribadi
Salah satu dampak flexing culture adalah risiko terhadap privasi. Ketika banyak hal dibagikan di media sosial, termasuk hal yang berkaitan dengan identitas diri, data pribadi bisa saja tersebar tanpa disadari. Contohnya, pelat nomor kendaraan yang terlihat saat memamerkan mobil mewah berpotensi disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab.
2. Menurunkan Self Esteem
Flexing culture juga dapat menurunkan rasa percaya diri. Seseorang bisa merasa lebih percaya diri saat mendapat validasi dari kemewahan yang ditampilkan, namun di sisi lain justru bisa muncul rasa insecure ketika tidak mampu melakukan hal yang sama. Perlu diingat, apa yang terlihat di media sosial tidak selalu mencerminkan kenyataan.
3. Mendorong Perilaku Konsumtif
Dampak lainnya adalah meningkatnya perilaku konsumtif. Demi gengsi dan pengakuan, seseorang terdorong untuk terus membeli barang mewah meskipun tidak sesuai kebutuhan. Jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa berdampak pada kondisi keuangan dan kesehatan mental.
4. Sulit Membangun Relasi Sosial
Orang yang sering melakukan flexing kerap dianggap kurang empati sehingga bisa lebih sulit diterima dalam lingkungan sosial. Banyak orang cenderung memilih bergaul dengan pribadi yang lebih sederhana. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa orang lebih nyaman berteman dengan tampilan yang tidak berlebihan.
Baca juga: Cara Hidup Sederhana agar Keuangan Terkontrol
5. Mengganggu Kepribadian
Dalam jangka panjang, flexing culture dapat memengaruhi kepribadian seseorang. Individu bisa menjadi lebih kompetitif dan kurang empati karena terbiasa mengejar validasi sosial yang akhirnya mengubah cara bersikap dan berinteraksi dengan orang lain.
6. Selalu Merasa Tidak Cukup
Paparan flexing di media sosial dapat membuat seseorang merasa hidupnya tidak pernah cukup. Hal ini memicu perasaan kurang puas, rendah diri, hingga insecure karena terus membandingkan diri dengan orang lain.
7. Salah Persepsi tentang Kesuksesan
Dampaknya juga bisa berupa kesalahpahaman tentang arti kesuksesan. Banyak orang akhirnya menganggap bahwa kebahagiaan hanya diukur dari kemewahan, yang kemudian menimbulkan ketidakpuasan terhadap diri sendiri dan berpotensi memicu masalah mental.
8. Stres karena Tekanan Citra
Bagi pelaku flexing, ada tekanan untuk terus mempertahankan citra sempurna di media sosial. Mereka merasa harus selalu terlihat sukses dan bersaing agar tetap diakui, yang pada akhirnya dapat menimbulkan stres bahkan depresi.
9. Menarik Diri dari Lingkungan Sosial
Ketika citra yang dibangun tidak lagi bisa dipertahankan, seseorang bisa merasa tidak nyaman untuk bersosialisasi. Hal ini dapat berujung pada isolasi sosial dan membuat hubungan dengan orang lain menjadi sulit terjalin dengan baik.
10. Munculnya Perasaan Iri
Flexing culture juga bisa menimbulkan rasa iri, baik pada pelaku maupun pada orang yang melihatnya. Keinginan untuk selalu terlihat unggul dapat membuat seseorang tidak puas ketika ada orang lain yang terlihat lebih sukses sehingga kebahagiaan pun menjadi sulit tercapai.
Cara agar Tidak Terjebak dalam Budaya Flexing
Agar tidak mudah terpengaruh flexing culture, kamu bisa mulai membangun kebiasaan yang lebih sehat dalam menggunakan media sosial dan menjalani hidup. Adapun beberapa cara agar tidak terjebak flexing adalah sebagai berikut:
- Meningkatkan kesadaran diri: Sadari tujuan saat menggunakan media sosial dan jangan mudah terbawa tren. Ingat bahwa yang terlihat di media sosial hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh.
- Berhenti mencari validasi orang lain: Jangan menjadikan penilaian orang lain sebagai ukuran utama diri sendiri. Pada dasarnya, yang paling memahami diri kita adalah diri sendiri, bukan orang lain di media sosial.
- Membatasi penggunaan media sosial: Jika mulai merasa terganggu dengan konten flexing culture, coba kurangi waktu bermain media sosial dengan menetapkan batas harian agar lebih terkontrol.
- Berpikir lebih kritis: Biasakan untuk tidak mudah ikut-ikutan tren atau gaya hidup yang terlihat di media sosial. Setiap keputusan sebaiknya didasarkan pada kebutuhan dan logika, bukan gengsi.
- Fokus pada hal yang benar-benar penting: Alihkan perhatian ke hal yang lebih bermakna, seperti hubungan dengan orang terdekat, pekerjaan, dan hobi yang membuat kamu berkembang.
- Memfilter konten dan lingkungan digital: Pilih konten media sosial yang lebih positif dan edukatif, serta hindari terlalu sering mengikuti akun yang menonjolkan gaya hidup mewah agar tidak mudah terpengaruh flexing culture.
Itulah gambaran tentang flexing culture beserta dampaknya yang perlu Anda pahami. Dengan begitu, Anda bisa lebih bijak dalam menyikapi tren ini dan tidak mudah terjebak pada standar semu yang hanya menonjolkan kemewahan. Pada akhirnya, kebahagiaan dan kesuksesan bukan dari apa yang terlihat, melainkan dari bagaimana Anda menjalani hidup sesuai kemampuan dan kebutuhan.
Kendati demikian, tidak berarti bahwa uang bukanlah sesuatu yang bisa dikesampingkan. Untuk kondisi tertentu, dana perlu siap sedia. Jika Anda membutuhkan dana cepat, BFI Finance menawarkan solusi pembiayaan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan dengan menjaminkan BPKB motor, BPKB mobil, hingga sertifikat rumah/ruko/rukan.
BFI Finance berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Proses pengajuan pinjaman pun dijalankan secara transparan. Jadi, mari penuhi kebutuhan finansial Anda dengan lebih tenang karena #SelaluAdaJalan bersama BFI Finance.
Baca juga: Jenis-Jenis Material Bangunan yang Bikin Rumah Terlihat Mewah