Bisnis

10+ Kesalahan Umum UMKM yang Harus Dihindari, Wajib Tahu!

Diterbitkan: 06 January, 2026
Diperbarui: 06 January, 2026
97
10+ Kesalahan Umum UMKM yang Harus Dihindari, Wajib Tahu!

Kesalahan umum UMKM sering kali menjadi penghalang pertumbuhan usaha. Banyak pelaku UMKM terlalu fokus pada operasional dan pemasaran, hingga urusan penting, seperti pengelolaan keuangan, strategi harga, dan perencanaan bisnis terabaikan.

Padahal, mengenali dan menghindari kesalahan-kesalahan ini penting agar usaha bisa berkembang lebih pesat dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pahami beberapa kesalahan strategi dalam UMKM berikut ini agar bisnis tetap kompetitif dan menguntungkan!

 

Kesalahan Umum UMKM yang Harus Dihindari

Agar bisnis UMKM bisa berkembang lebih lancar dan berkelanjutan, penting untuk mengetahui kesalahan-kesalahan umum yang sering terjadi. Dengan memahami hal ini, Anda bisa mengambil langkah tepat untuk menjaga usaha tetap kompetitif dan menguntungkan. Berikut beberapa kesalahan umum UMKM yang perlu dipahami.

1. Menetapkan Harga Terlalu Murah Demi Menarik Pelanggan

Banyak UMKM berpikir harga murah bisa menarik lebih banyak pelanggan. Padahal, strategi ini sering berujung pada keuntungan tipis atau bahkan merugi, produk dianggap kurang berkualitas, dan sulit menaikkan harga di kemudian hari.

Lakukan riset pasar untuk mengetahui harga produk sejenis dan terapkan value-based pricing, yakni menentukan harga berdasarkan manfaat dan keunggulan produk, bukan hanya menyesuaikan harga kompetitor.

2. Tidak Memisahkan Keuangan Pribadi dan Bisnis

Salah satu kesalahan keuangan dalam UMKM yang sering terjadi adalah mencampur adukkan uang pribadi dengan uang bisnis. Kebiasaan ini membuat pelacakan pengeluaran dan pemasukan menjadi sulit, sekaligus meningkatkan risiko menggunakan dana bisnis untuk keperluan pribadi, atau sebaliknya.

Solusinya, segera buat rekening terpisah khusus bisnis dan disiplin dalam menggunakannya. Agar lebih mudah, manfaatkan juga aplikasi keuangan yang dapat membantu memisahkan setiap pos pengeluaran dengan lebih efisien, dan pastikan untuk mencatat setiap transaksi secara teratur.

 

Baca juga: Cara UMKM Naik Kelas: Indikator Keberhasilan dan Langkah-langkahnya

 

3. Tidak Melakukan Riset Pasar Mendalam

Banyak UMKM memulai usaha hanya berdasarkan asumsi atau tren sesaat, tanpa memahami kebutuhan dan preferensi pasar. Akibatnya, produk atau jasa yang ditawarkan kurang kompetitif.

Untuk itu, lakukanlah riset pemasaran sederhana untuk mengenal target pasar, menentukan harga yang wajar, dan mengetahui keunggulan produk pesaing. Pemahaman ini akan membantu membuat strategi pemasaran yang lebih tepat sasaran.

4. Mengabaikan Arus Kas (Cash Flow)

Laba di atas kertas memang penting, namun cash flow adalah nyawa bisnis. Bisnis bisa terlihat untung, tapi tanpa uang tunai cukup untuk bayar tagihan, gaji, atau beli bahan baku, usaha bisa terhenti.

Solusinya, buat proyeksi laporan keuangan sederhana dengan mencatat perkiraan pemasukan dan pengeluaran beberapa bulan ke depan. Cara ini membantu mengantisipasi potensi kekurangan kas dan menjaga kelancaran operasional.

5. Tidak Menyesuaikan Harga dengan Kenaikan Biaya Operasional

Biaya bahan baku dan operasional pasti naik seiring waktu, tapi banyak UMKM ragu menaikkan harga karena takut kehilangan pelanggan. Akibatnya, margin keuntungan makin menipis. Solusinya, pantau biaya secara rutin dan sesuaikan harga secara bertahap. Beri penjelasan yang jelas kepada pelanggan, misalnya lewat media sosial atau label produk, agar kenaikan harga lebih mudah diterima.

6. Tidak Memiliki Dana Darurat

Bisnis selalu berisiko menghadapi hal tak terduga, seperti kerusakan mesin, pembatalan pesanan, atau perubahan regulasi yang memerlukan biaya tambahan. Tanpa dana darurat, mengatasi situasi ini bisa sangat sulit. Sebaiknya sisihkan sebagian keuntungan setiap bulan untuk dana darurat, idealnya cukup menutupi biaya operasional selama 3–6 bulan.

7. Terlalu Sering Memberikan Diskon Tanpa Perhitungan

Diskon memang bisa menarik pelanggan, tapi jika terlalu sering tanpa strategi, justru merugikan. Pelanggan bisa menunggu promo, nilai brand menurun, dan margin keuntungan terkikis. Solusinya, terapkan diskon dengan perencanaan jelas hanya untuk momen tertentu, menggunakan tiered pricing, atau melalui program loyalitas yang memberi poin untuk pembelian selanjutnya.

 

Baca juga: 10 Contoh UMKM yang Bisa Menjadi Inspirasi Bisnis

 

8. Pemasaran yang Tidak Konsisten

Di era digital, kehadiran online sangat penting. Banyak UMKM melakukan pemasaran secara sporadis, aktif hanya saat penjualan menurun, tapi berhenti saat penjualan stabil. Padahal, konsistensi dalam memperkenalkan produk sangat krusial. Buat rencana konten dan jadwal promosi rutin, manfaatkan media sosial yang sering digunakan target pasar, dan jaga interaksi dengan pelanggan agar mereka merasa diperhatikan.

9. Tidak Berinvestasi pada Pengembangan Diri dan Tim

Pemilik UMKM ibarat nahkoda bisnis, tanpa keterampilan yang cukup, usaha sulit berkembang. Hal yang sama berlaku untuk tim. Investasi pada pengembangan diri dan tim merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting. Solusinya, ikuti pelatihan atau workshop terkait keuangan, manajemen, atau keterampilan lain yang relevan, dan berikan kesempatan tim untuk melakukan hal yang sama.

10. Takut Berinovasi dan Beradaptasi

Dunia usaha selalu bergerak dan UMKM yang enggan berinovasi atau beradaptasi berisiko tertinggal. Menolak berjualan online atau mengabaikan perubahan selera konsumen bisa menjadi hambatan serius.

Selalu perhatikan tren baru, dengarkan masukan pelanggan, dan gunakan kritik sebagai modal perbaikan. Inovasi tidak harus besar, perubahan kecil pada kemasan atau penambahan varian produk saja sudah bisa menarik perhatian.

11. Menunda Pembayaran Pajak

Menunda pembayaran pajak merupakan kesalahan keuangan dalam UMKM yang sering terjadi. Selain berisiko terkena denda, hal ini juga bisa menimbulkan masalah hukum. Pahami kewajiban pajak sebagai pemilik UMKM, catat tanggal jatuh tempo, dan jika perlu, konsultasikan dengan ahli atau gunakan jasa konsultan pajak untuk memastikan semuanya tertib.

12. Tidak Melakukan Evaluasi Keuangan Secara Berkala

Evaluasi keuangan penting untuk menilai kesehatan bisnis dan mengetahui apakah strategi yang dijalankan sudah efektif. Tanpa evaluasi rutin, kamu mungkin melewatkan masalah atau peluang yang bisa dimanfaatkan.

Untuk itu, lakukan pengecekan keuangan secara berkala, misalnya bulanan, triwulanan, atau tahunan dan gunakan laporan sebagai alat bantu analisis. Mengetahui kesalahan umum UMKM dan cara menghindarinya akan membantu bisnis tetap kompetitif dan berkembang lebih pesat.

 

Nah, apabila Anda perlu modal untuk mendukung rencana usaha, BFI Finance menyediakan pembiayaan dengan jaminan BPKB Motor, BPKB Mobil, hingga Sertifikat Rumah/Ruko/Rukan yang prosesnya terbilang cepat.

Dengan proses yang mudah, aman, dan transparan, rencana Anda membuka franchise, mengembangkan produk, atau memperluas bisnis bisa lebih realistis. Semua layanan BFI Finance berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga transaksi aman dan nyaman.

Jadi, jangan khawatir karena #SelaluAdaJalan bersama BFI Finance untuk mewujudkan pertumbuhan usaha UMKM Anda!

 

Baca juga: Apa itu Pinjaman UMKM? Ini Jenis dan Cara Mengajukannya

Kategori : Bisnis
Kukut Ragil Walujodjati

Kukut Ragil Walujodjati

SEO & Content Writer

Kukut Ragil Walujodjati adalah SEO Strategist dan Content Writer dengan pengalaman lebih dari 3 tahun yang berfokus pada pembiayaan berbasis jaminan. Kukut Ragil merupakan lulusan Far Eastern Federal University, program studi Manajemen. Bidang penulisan yang dikuasainya meliputi topik pinjaman, bisnis, UMKM, gaya hidup, dan edukasi finansial. Ia secara aktif mengikuti perkembangan regulasi dan dinamika pasar pembiayaan di Indonesia, sehingga setiap artikel yang ditulis selalu mengutamakan ketepatan konteks dan relevansi praktik di lapangan. Tujuan utamanya adalah membantu pembaca memahami keputusan finansial secara lebih matang dan terinformasi.