Bisnis

Cara Menghitung Arus Kas & Membuat Proyeksinya, Lengkap!

Penulis: Sarah
Diterbitkan: 12 March, 2026
33
Cara Menghitung Arus Kas & Membuat Proyeksinya, Lengkap!

Memahami cara menghitung arus kas penting untuk menjaga kesehatan finansial bisnis. Arus kas adalah pergerakan uang masuk dan keluar dalam periode tertentu, mencakup pendapatan, pengeluaran, investasi, hingga pinjaman yang berperan besar dalam laporan keuangan dan kelancaran operasional.

Selain memahami konsep arus kas, Anda juga perlu tahu cara menghitung serta membuat proyeksinya agar bisa melihat kondisi keuangan secara menyeluruh dan mengambil keputusan yang tepat. Untuk itu, simak pembahasan lengkapnya di artikel ini!

 

Apa Itu Arus Kas?

Arus kas atau cash flow adalah aliran uang masuk dan keluar dalam perusahaan selama periode tertentu yang menunjukkan adanya aktivitas keuangan. Sederhananya, arus kas menggambarkan bagaimana uang berputar di dalam bisnis. Perannya sangat penting karena dari laporan arus kas perusahaan bisa bertahan dan menjalankan operasionalnya, termasuk melihat laba atau rugi yang terjadi.

Kondisi arus kas pada periode tertentu juga menjadi dasar untuk menentukan langkah bisnis selanjutnya. Jika hasilnya negatif, perlu strategi untuk memperbaikinya. Sebaliknya, jika positif, perusahaan bisa mencari cara agar kinerjanya semakin meningkat.

 

Cara Menghitung Arus Kas

Sebelum mulai menghitung arus kas, ada beberapa data penting yang perlu disiapkan, seperti laporan laba rugi periode berjalan serta neraca periode saat ini dan sebelumnya.

Setelah itu, Anda bisa menentukan metode yang digunakan, baik metode langsung maupun tidak langsung, sesuai kebutuhan laporan. Berikut beberapa cara menghitung cash flow atau arus kas yang perlu diperhatikan:

1. Arus Kas Operasional

Arus kas operasional (Operating Cash Flow/OCF) menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan uang tunai dari aktivitas bisnis sehari-hari. Perhitungan ini hanya berfokus pada kegiatan operasional sehingga arus kas dari pendanaan dan investasi tidak ikut dimasukkan. Berikut adalah rumus perhitungannya:

Arus Kas Operasional = Laba Bersih + Beban Non-Tunai − Perubahan Modal Kerja

Laba bersih mencerminkan keuntungan yang diperoleh, beban non-tunai meliputi depresiasi dan amortisasi, sedangkan perubahan modal kerja adalah selisih antara aset dan kewajiban saat ini.

Sebagai contoh, jika laba bersih sebesar Rp2.500.000, beban nontunai Rp1.000.000, dan perubahan modal kerja Rp500.000, maka arus kas operasionalnya adalah:

Rp2.500.000 + Rp1000.000 − Rp500.000 = Rp3000.000

Nilai ini menjadi indikator penting untuk menilai kemampuan bisnis menghasilkan kas dari operasional utamanya.

Baca juga: Contoh Pembukuan Keuangan untuk UMKM & Cara Membuatnya

2. Arus Kas Bebas

Arus kas bebas (Free Cash Flow/FCF) adalah sisa dana tunai setelah perusahaan memenuhi seluruh kewajibannya. Dana inilah yang bisa digunakan untuk ekspansi, pengembangan bisnis, atau dibagikan kepada pemegang saham.

Dengan menghitungnya, Anda bisa melihat seberapa fleksibel kondisi keuangan perusahaan.

Adapun rumusnya adalah sebagai berikut:

Arus Kas Bebas = Laba Bersih + Beban Non-Tunai − Perubahan Modal Kerja − Belanja Modal

Laba bersih menunjukkan keuntungan perusahaan, beban nontunai mencakup depresiasi dan amortisasi, perubahan modal kerja adalah selisih aset dan kewajiban saat ini, sedangkan belanja modal merupakan dana untuk memperoleh atau merawat aset tetap.

Contohnya, jika laba bersih Rp2.000.000, beban non-tunai Rp1.000.000, perubahan modal kerja Rp1.250.000, dan belanja modal Rp500.000, maka:

Rp2.000.000 + Rp1.000.000 − Rp1.250.000 − Rp500.000 = Rp1.250.000

Hasil tersebut menunjukkan arus kas bebas sebesar Rp1.250.000 yang mencerminkan kekuatan keuangan perusahaan dan kemampuannya dalam memanfaatkan peluang pertumbuhan.

3. Arus Kas dari Aktivitas Investasi

Arus kas dari aktivitas investasi (Cash Flow from Investing/CFI) menunjukkan aliran bersih kas yang berasal dari belanja modal, merger dan akuisisi, serta pembelian atau penjualan surat berharga.

Dari sini, Anda bisa melihat bagaimana perusahaan mengalokasikan dana untuk investasi dan pertumbuhan jangka panjang. Rumusnya adalah sebagai berikut:

CFI = Arus Kas Masuk dari Aktivitas Investasi − Arus Kas Keluar dari Aktivitas Investasi

Data tersebut dapat dilihat pada laporan arus kas atau dengan membandingkan aset tidak lancar di neraca selama dua periode.

Contoh pertama, perusahaan membeli properti dan peralatan sebesar Rp5.000.000, mengakuisisi bisnis lain Rp7.000.000, serta menjual surat berharga Rp2.000.000. Maka perhitungannya:

Rp2.000.000 − (Rp5.000.000 + Rp7.000.000) = −Rp10.000.000

Contoh kedua, perusahaan menerima Rp5.000.000 dari penjualan peralatan dan Rp5.000.000 dari akuisisi, lalu mengeluarkan Rp2.000.000 untuk investasi surat berharga. Maka:

(Rp5.000.000 + Rp5.000.000) − Rp2.000.000 = Rp8.000.000

Hasil ini membantu menilai bagaimana perusahaan mengelola kas untuk kebutuhan investasi jangka panjang.

Baca juga: 10+ Kesalahan Umum UMKM yang Harus Dihindari, Wajib Tahu!

4. Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan

Arus kas dari aktivitas pendanaan (Cash Flow from Financing/CFF) menunjukkan aliran bersih kas antara perusahaan dengan pemilik, kreditur, dan investor. Dari sini, Anda bisa melihat bagaimana perusahaan memperoleh modal serta menyalurkan dananya. Rumusnya seperti berikut:

Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan = Arus Kas Masuk dari Penerbitan Ekuitas atau Utang − (Pembayaran Dividen + Pembelian Kembali Utang dan Ekuitas)

Arus kas masuk berasal dari penerbitan saham atau penambahan utang, sedangkan pembayaran dividen dan pembelian kembali utang maupun saham termasuk arus kas keluar.

Contohnya, perusahaan menerima Rp15.000.000 dari penerbitan ekuitas atau utang, membayar dividen Rp2.000.000, dan membeli kembali utang serta ekuitas Rp5.000.000. Maka perhitungannya:

Rp15.000.000 − (Rp2.000.000 + Rp5.000.000) = Rp8.000.000

Nilai ini memberikan gambaran tentang cara perusahaan menghimpun sekaligus mendistribusikan dananya.

5. Neto Arus Kas

Untuk memahami cara menghitung cash flow secara menyeluruh, kamu juga perlu mengetahui neto arus kas. Neto arus kas adalah selisih antara seluruh arus kas masuk dan arus kas keluar dalam satu periode yang menjadi indikator penting kondisi keuangan perusahaan. Berikut rumus menghitungnya:

Neto Arus Kas = Total Arus Kas Masuk − Total Arus Kas Keluar

Contohnya, jika perusahaan memiliki total arus kas masuk Rp15.000.000 dan arus kas keluar Rp10.000.000, maka:

Rp15.000.000 − Rp10.000.000 = Rp5.000.000

Perhitungan ini membantu Anda melihat apakah bisnis menghasilkan kas atau justru menggunakannya lebih banyak sehingga keseimbangan arus kas tetap terjaga.

 

Membuat Proyeksi Arus Kas

Setelah memahami cara menghitung arus kas, langkah berikutnya adalah membuat proyeksinya. Proyeksi arus kas membantu memperkirakan arus masuk dan keluar dana di masa depan berdasarkan data sebelumnya dan rencana bisnis yang akan dijalankan.

Dengan proyeksi arus kas, Anda bisa mengantisipasi kekurangan dana, mengambil keputusan yang lebih tepat, serta menunjukkan kondisi keuangan bisnis kepada investor atau pemberi pinjaman.

1. Langkah-Langkah Membuat Proyeksi Arus Kas

Agar proyeksi arus kas tidak dibuat asal perkiraan, ada beberapa tahapan yang perlu dipahami terlebih dahulu. Dengan mengikuti langkah yang tepat, perhitungan bisa lebih akurat dan relevan dengan kondisi bisnis. Berikut langkah-langkahnya:

  • Kumpulkan data historis: Siapkan laporan keuangan dan data arus kas sebelumnya sebagai dasar penyusunan proyeksi.
  • Tentukan asumsi utama: Buat perkiraan yang memengaruhi proyeksi, seperti pertumbuhan penjualan, tren pengeluaran, dan estimasi arus kas masuk.
  • Susun proyeksi bulanan: Buat perhitungan arus kas per bulan untuk satu tahun ke depan atau sesuai kebutuhan bisnis.
  • Pantau dan sesuaikan: Bandingkan realisasi dengan proyeksi secara berkala, lalu lakukan penyesuaian jika ada perbedaan kondisi keuangan.

2. Contoh Proyeksi Arus Kas

Sebagai gambaran, sebuah bisnis manufaktur kecil di Indonesia menyusun proyeksi arus kas untuk tahun berikutnya dengan mengumpulkan data historis penjualan, pengeluaran, dan arus kas.

Dari data tersebut, mereka memperkirakan arus kas masuk tiap bulan, menghitung kebutuhan pengeluaran, serta memasukkan pembayaran pinjaman dan bunga. Hasil proyeksi membantu mereka melihat potensi kekurangan dana saat periode produksi tinggi sehingga bisa merencanakan pinjaman modal kerja jangka pendek.

Dengan memperbarui proyeksi secara rutin, bisnis dapat mengelola keuangan lebih proaktif, mengurangi risiko masalah kas, dan mengambil keputusan yang mendukung pertumbuhan serta stabilitas.

Itulah pembahasan lengkap mengenai cara menghitung arus kas hingga membuat proyeksinya. Dengan memahami cara menghitung arus kas dan membuat proyeksinya secara tepat, Anda bisa menjaga bisnis tetap stabil sekaligus lebih siap menghadapi berbagai kebutuhan keuangan di masa depan.

 

Perencanaan yang matang membantu arus kas tetap sehat dan keputusan bisnis pun bisa diambil dengan lebih terukur. Jika dalam proses berbisnis dibutuhkan dukungan dana tambahan untuk pengembangan usaha, Anda dapat mempertimbangkan solusi pembiayaan dari BFI Finance.

BFI Finance melayani pembiayaan dengan jaminan BPKB Motor, BPKB Mobil, dan Sertifikat Rumah/Ruko/Rukan yang prosesnya praktis dan transparan. Dengan izin resmi dan pengawasan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pengajuan pinjaman di BFI Finance terjamin legalitasnya. Jadi, tak perlu ragu lagi untuk mewujudkan rencana keuangan Anda karena #SelaluAdaJalan bersama BFI Finance.

Baca juga: Cara Membuat Catatan Keuangan Pribadi & Contohnya

Kategori : Bisnis
Sarah

Sarah

Content Writer & SEO

Sarah merupakan seorang SEO Strategist dan Content Writer dengan pengalaman lebih dari dua tahun di bidang literasi keuangan dan informasi umum seperti gaya hidup, bisnis, serta edukasi publik. Lulusan Ilmu Komunikasi dari Binus University ini memiliki minat kuat pada pengembangan konten yang informatif dan relevan bagi pembaca.