Informasi Umum

Mau Pindah ke Mobil Listrik? Simak Dulu Kelebihan dan Kekurangannya

Diterbitkan: 24 April, 2026
Diperbarui: 24 April, 2026
33
Mau Pindah ke Mobil Listrik? Simak Dulu Kelebihan dan Kekurangannya

Mobil listrik kini semakin diminati di Indonesia, dengan berbagai pilihan model dan teknologi, seperti BEV, HEV, hingga PHEV. Sebelum membeli, penting untuk memahami kelebihan dan kekurangan mobil listrik sebagai bahan pertimbangan.

Di satu sisi, mobil listrik dikenal ramah lingkungan dan memiliki torsi instan. Namun, di sisi lain, ketersediaan fasilitas pengisian daya masih terbatas. Inilah salah satu alasan mengapa banyak orang masih menimbang untuk menggunakan mobil listrik atau tetap bergantung pada mobil bensin.

Supaya tidak salah langkah memilih mobil listrik, simak ulasan lengkap mengenai kelebihan dan kekurangannya berikut sampai akhir!

 

Kelebihan Mobil Listrik

Seiring meningkatnya minat terhadap kendaraan listrik, berbagai keunggulan yang ditawarkan mobil ini mulai menjadi perhatian. Berikut kelebihan mobil listrik yang bisa jadi pertimbangan sebelum Anda membelinya:

1. Ramah Lingkungan

Ramah lingkungan menjadi salah satu alasan utama peralihan ke mobil listrik, baik di Indonesia maupun secara global. Mobil listrik tidak menghasilkan emisi gas buang sehingga membantu mengurangi polusi udara, terutama di perkotaan. Berbeda dengan mobil konvensional yang masih menghasilkan sisa pembakaran bahan bakar, mobil listrik lebih aman bagi lingkungan sekaligus nyaman digunakan.

2. Pajak yang Murah

Pajak yang lebih murah menjadi daya tarik lain dari mobil listrik. Pemerintah memberikan berbagai insentif, seperti pembebasan BBNKB dan tarif PKB yang hanya sekitar 10 persen, seperti yang berlaku di DKI Jakarta. Dengan skema ini, biaya pajak tahunan mobil listrik bahkan bisa kurang dari Rp1 juta sehingga lebih ringan bagi pemiliknya.

3. Perawatan Cenderung Mudah

Perawatan mobil listrik cenderung lebih mudah karena jumlah komponen bergeraknya lebih sedikit dan tidak memerlukan pelumas mesin. Hal ini membuat perawatannya lebih sederhana dan biaya yang dikeluarkan pun relatif lebih ringan. Meski begitu, mobil listrik tetap membutuhkan perawatan, terutama pada komponen fast-moving, seperti kampas rem yang harus diganti secara rutin demi menjaga keamanan.

 

Baca juga: Yuk, Kenali Lebih Dalam 8 Jenis Mobil Listrik Buatan Indonesia Ini!

 

4. Bebas Ganjil Genap

Mobil listrik juga mendapat keuntungan bebas dari aturan ganjil-genap di DKI Jakarta sehingga bisa digunakan setiap hari tanpa khawatir terkena tilang. Kebijakan ini diatur dalam Pergub DKI Jakarta Nomor 88 Tahun 2019 sebagai bentuk dukungan terhadap penggunaan kendaraan listrik.

5. Pengisian Daya yang Mudah

Pengisian daya mobil listrik tergolong mudah karena cukup menghubungkan baterai ke sumber listrik eksternal. Selain praktis, biayanya juga lebih hemat dibandingkan dengan BBM.

Sebagai gambaran, pengisian baterai untuk jarak sekitar 350 km bisa hanya Rp130 ribu–Rp150 ribu, sedangkan mobil konvensional bisa mencapai Rp500 ribu. Bahkan, pengisian daya juga bisa dilakukan di rumah tanpa perlu antre.

6. Hemat Biaya Bahan Bakar

Mobil listrik juga lebih hemat biaya bahan bakar karena efisiensi energinya lebih tinggi. Sekitar 85–95% energi listrik dapat diubah menjadi energi mekanik, sedangkan mobil konvensional hanya memanfaatkan kurang dari sepertiga bahan bakar sebagai penggerak.

7. Memiliki Torsi Instan

Mobil listrik memiliki torsi instan yang membuat performanya terasa lebih responsif. Saat pedal akselerator diinjak, tenaga langsung tersedia sehingga mobil terasa lincah, terutama dalam kondisi stop and go. Hal ini berbeda dengan mobil bermesin pembakaran internal yang membutuhkan putaran mesin tertentu untuk mencapai torsi puncak.

Kekurangan Mobil Listrik

Meski menawarkan banyak keunggulan, mobil listrik tetap memiliki sisi lain yang tidak boleh diabaikan. Berikut beberapa kekurangan mobil listrik yang perlu diketahui:

1. Harga yang Masih Mahal

Harga mobil listrik di Indonesia masih tergolong mahal bagi sebagian besar masyarakat. Bahkan, model mobil listrik termurah dibanderol mulai Rp200 jutaan dan cenderung menyasar segmen kendaraan komersial. Sementara itu, mobil listrik populer, seperti Hyundai Kona atau Ioniq, dijual di kisaran Rp600 jutaan sehingga belum sepenuhnya terjangkau.

2. Harga Baterai Cenderung Mahal

Baterai menjadi komponen paling mahal pada mobil listrik, meski umumnya sudah dilengkapi garansi panjang hingga 8 tahun atau sekitar 160 ribu kilometer. Seiring pemakaian, kualitas baterai akan menurun dan pada akhirnya perlu diganti dengan biaya yang tidak sedikit. Meski saat ini belum banyak kasus penggantian baterai karena usia kendaraan masih relatif baru, bukan tidak mungkin ke depannya harga baterai akan semakin terjangkau.

3. Tempat Pengisian yang Masih Terbatas

Ketersediaan tempat pengisian daya yang masih terbatas menjadi salah satu hambatan utama penggunaan mobil listrik. Meski pengisian bisa dilakukan di rumah, fasilitas yang tersebar luas tetap dibutuhkan agar penggunaan lebih nyaman. Saat ini, pemerintah melalui PLN terus berupaya memperbanyak Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) untuk mendukung kebutuhan tersebut.

 

Baca juga: Mobil Hybrid: Mobil Eco-Friendly dengan Dua Sistem Penggerak

 

4. Waktu Pengecasan Cenderung Lama

Waktu pengecasan mobil listrik cenderung lebih lama dibandingkan dengan isi bensin. Pengguna biasanya perlu membiasakan mengisi daya pada malam hari agar siap digunakan keesokan harinya. Durasi pengisian juga bergantung pada metode yang digunakan.

Dengan wall charger, prosesnya bisa memakan waktu sekitar 5–6 jam, sedangkan fast charging di SPKLU sekitar 1–2 jam. Meski begitu, waktu ini masih lebih lama dibandingkan dengan pengisian bensin yang hanya 10–15 menit.

5. Jarak Tempuh Terbatas

Jarak tempuh mobil listrik masih terbatas dan menjadi salah satu pertimbangan sebelum membeli. Dalam sekali pengisian daya, rata-rata mobil listrik hanya mampu menempuh sekitar 150.000–500.000 km. Angka ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan mobil konvensional yang bisa mencapai hingga 800.000 km dalam satu kali pengisian bahan bakar penuh.

6. Limbah Baterai

Meski tidak menghasilkan emisi knalpot, mobil listrik tetap memiliki dampak lingkungan dari limbah baterai. Proses produksi baterai lithium-ion membutuhkan energi dan bahan baku dalam jumlah besar, yang secara tidak langsung turut menghasilkan emisi karbon.

Itulah berbagai kelebihan dan kekurangan mobil listrik yang bisa Anda jadikan pertimbangan sebelum membeli. Dengan memahami keduanya, Anda bisa lebih bijak menyesuaikan pilihan kendaraan dengan kebutuhan, kenyamanan, dan kondisi finansial.

Selain menjadi kendaraan yang dapat diandalkan, mobil listrik juga bernilai tinggi sehingga termasuk aset berharga yang bisa dijadikan sebagai jaminan pembiayaan. Apabila Anda membutuhkan dana cepat, Anda bisa menjaminkan BPKB mobil listrik dan mendapatkan dana pinjaman melalui pembiayaan mobil listrik dari BFI Finance.

Selain itu, tersedia juga berbagai pilihan pembiayaan lain seperti BPKB motor, BPKB mobil, hingga sertifikat rumah/ruko/rukan yang dapat Anda manfaatkan sesuai dengan kebutuhan finansial.

BFI Finance telah beroperasi lebih dari 40 tahun, berizin resmi, dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi, penuhi kebutuhan finansial Anda tanpa hambatan karena #SelaluAdaJalan bersama BFI Finance.

 

Baca juga: Jenis Jenis Mobil dan Merk Mobil Terlaris di Indonesia, Terbaru!

Kategori : Informasi Umum
Kukut Ragil Walujodjati

Kukut Ragil Walujodjati

SEO & Content Writer

Kukut Ragil Walujodjati adalah SEO Strategist dan Content Writer dengan pengalaman lebih dari 3 tahun yang berfokus pada pembiayaan berbasis jaminan. Kukut Ragil merupakan lulusan Far Eastern Federal University, program studi Manajemen. Bidang penulisan yang dikuasainya meliputi topik pinjaman, bisnis, UMKM, gaya hidup, dan edukasi finansial. Ia secara aktif mengikuti perkembangan regulasi dan dinamika pasar pembiayaan di Indonesia, sehingga setiap artikel yang ditulis selalu mengutamakan ketepatan konteks dan relevansi praktik di lapangan. Tujuan utamanya adalah membantu pembaca memahami keputusan finansial secara lebih matang dan terinformasi.