Gaya Hidup

Begini Dampak Emotional Spending Terhadap Finansial Anda

Penulis: Sarah
Diterbitkan: 03 February, 2026
15
Begini Dampak Emotional Spending Terhadap Finansial Anda

Pernahkah Anda merasa sedang lelah, stres, atau sedih, lalu tiba-tiba ingin belanja? Tanpa disadari, kondisi emosional sering kali memengaruhi cara seseorang mengelola uang.

Aktivitas belanja yang awalnya terlihat wajar bisa berubah menjadi kebiasaan yang merugikan jika dilakukan bukan berdasarkan kebutuhan. Fenomena inilah yang dikenal sebagai emotional spending dan bisa memicu doom spending yang berbahaya terhadap kondisi finansial.

Lalu, apa itu emotional spending dan bagaimana cara mencegahnya? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

 

Apa Itu Emotional Spending?

Emotional spending adalah kebiasaan mengeluarkan uang yang didorong oleh emosi, bukan oleh kebutuhan. Emosi yang dimaksud bisa beragam, mulai dari stres, cemas, marah, sedih, hingga perasaan bahagia. Dalam kondisi ini, belanja sering dijadikan sebagai cara cepat untuk memperbaiki suasana hati, meskipun efeknya hanya bersifat sementara.

Banyak orang tidak menyadari bahwa keputusan belanja yang diambilnya dipengaruhi oleh emosi. Saat sedang tertekan oleh pekerjaan, menghadapi masalah keluarga atau pasangan, membeli sesuatu bisa terasa menenangkan.

Begitu pula ketika senang atau ingin merayakan pencapaian tertentu, belanja dianggap sebagai bentuk self reward. Padahal, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini bisa berdampak buruk pada keuangan.

Lebih lanjut, memahami apa itu spending menjadi hal penting untuk diperhatikan dalam pembahasan ini. Spending adalah aktivitas yang melibatkan pengeluaran, belanja, atau menghabiskan uang untuk suatu tujuan. Untuk mengelola spending, seseorang perlu menyusun rencana yang terarah.

Mengapa Emotional Spending Berbahaya?

Emotional spending artinya seseorang memiliki dorongan emosional yang kuat dan berulang, sehingga cenderung mengabaikan kondisi keuangannya. Keputusan finansial yang seharusnya berdasarkan perhitungan berubah menjadi keputusan emosional. Dampaknya mungkin tidak terasa dalam satu hari atau satu minggu, tetapi sangat terasa dalam beberapa bulan.

Selain itu, emotional spending juga bisa memicu masalah finansial yang lebih serius, seperti:

  • Sulit menabung karena uang sudah habis lebih dulu.
  • Menambah utang konsumtif.
  • Memakai kartu kredit untuk pengeluaran yang tidak penting.
  • Menggunakan paylater hingga cicilan menumpuk.
  • Terjebak dalam stres finansial.

Ironisnya, emotional spending yang awalnya dilakukan untuk mengurangi stres justru sering menimbulkan stres baru. Ketika uang menipis dan tagihan datang, kecemasan meningkat. Siklus ini bisa terus berulang jika tidak disadari dan tidak dihentikan.

Baca juga: Cara Hidup Sederhana agar Keuangan Terkontrol

Tanda-Tanda Emotional Spending

Banyak orang mengira perilaku impulsifnya sekadar kebiasaan kecil, padahal bisa saja itu adalah ciri dari emotional spending. Berikut tanda-tanda yang perlu Anda perhatikan agar tidak melewati batas saat berbelanja:

1. Belanja Menjadi Pelampiasan saat Ada Masalah

Tanda paling umum adalah menjadikan belanja sebagai pelarian ketika menghadapi masalah. Saat pikiran terasa penuh atau emosi sedang tidak stabil, membeli barang dianggap sebagai cara cepat untuk refreshing atau menenangkan diri. Meskipun perasaan Anda menjadi lebih baik, kondisi itu hanya terjadi sesaat dan masalah yang Anda hadapi sebenarnya belum terselesaikan.

2. Sering Merasa Bersalah Setelah Belanja

Rasa bersalah setelah berbelanja juga menjadi indikasi kuat emotional spending. Anda mungkin merasa senang saat checkout sesuatu, tetapi tidak lama kemudian muncul penyesalan karena uang sudah terlanjur habis. Perasaan ini biasanya muncul karena pembelian tersebut tidak benar-benar dibutuhkan.

3. Merasa Kalau Bahagia Itu Harus dengan Uang

Tanda berikutnya adalah anggapan bahwa kebahagiaan selalu berkaitan dengan pengeluaran. Saat ingin merayakan momen tertentu, Anda merasa harus membeli sesuatu agar perasaan bahagia terasa lebih lengkap. Pola pikir ini perlu dikendalikan agar finansial Anda tetap aman.

4. Belanja Karena FOMO

Fear of Missing Out (FOMO) juga sering memicu emotional spending. Melihat orang lain membeli barang tertentu, mengikuti tren, atau memamerkan lifestyle di media sosial dapat menimbulkan dorongan untuk ikut berbelanja. Keputusan ini biasanya diambil bukan karena kebutuhan, melainkan karena rasa takut ketinggalan.

5. Bingung Membedakan Kebutuhan dan Keinginan

Emotional spending membuat batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi kabur. Seseorang bisa mulai meyakinkan diri bahwa sesuatu yang ia inginkan adalah kebutuhan. Contohnya, mengganti smartphone yang masih layak karena ingin yang versi terbaru, atau membeli item tambahan padahal yang lama masih ada. Dalam kondisi ini, pikiran akan lebih fokus pada keinginan untuk merasa lebih baik, bukan pada prioritas.

Baca juga: Cara Mengatur Keuangan untuk Pemula, Simpel dan Efektif! 

Cara Mengatasi Emotional Spending

Mengatasi emotional spending bukan berarti Anda tidak boleh menikmati uang hasil kerja keras. Akan tetapi, Anda perlu membangun kebiasaan belanja yang lebih sadar dan terkontrol. Berikut beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mencegah emotional spending:

1. Kenali Pemicu Emosional Anda

Perhatikan kapan Anda paling sering ingin belanja tanpa rencana. Apakah saat stres kerja, bosan, sedih, atau merasa cemas? Dengan mengenali pemicunya, Anda bisa lebih siap mengendalikan dorongan belanja.

2. Beri Jeda Sebelum Melakukan Transaksi

Emotional spending biasanya terjadi karena impulsif. Cobalah memberi waktu minimal 24 jam sebelum membeli barang yang tidak ada dalam list Anda. Jeda ini membantu untuk berpikir lebih jernih dan menilai apakah barang tersebut benar-benar perlu.

3. Buat Batas Khusus untuk Self Reward

Anda tetap boleh memberi apresiasi pada diri sendiri, tetapi dengan batas yang jelas. Sisihkan anggaran khusus untuk hiburan atau self reward agar kebiasaan ini tidak mengganggu kebutuhan utama dan target tabungan Anda.

4. Gunakan Daftar Belanja dan Patuhi Plan Anda

Saat berbelanja online maupun offline, biasakan membuat daftar terlebih dahulu. Fokus pada item yang memang dibutuhkan. Jika Anda melihat barang menarik di luar daftar, tunda pembelian agar tidak terbawa oleh emosi.

5. Ganti Pelampiasan Belanja dengan Aktivitas yang Lebih Sehat

Saat emosi naik turun, Anda bisa mengganti belanja dengan cara yang lebih menenangkan, seperti olahraga ringan, berjalan santai, membaca, menulis jurnal, atau berbincang dengan orang yang Anda percaya.

6. Catat Pengeluaran Secara Rutin

Pencatatan membantu Anda melihat pola, sekaligus menyadarkan bahwa pengeluaran kecil yang sering terjadi bisa menjadi besar jika dikumpulkan dalam satu bulan. Hal ini bisa membantu pengaturan keuangan yang lebih terarah.

Itulah pembahasan mengenai apa itu emotional spending, ciri-cirinya, dampaknya terhadap finansial, hingga cara mengatasinya. Emotional spending bukan sekadar kebiasaan belanja, tetapi pola yang bisa membuat keuangan Anda perlahan-lahan melemah. Terlebih, jika kebutuhan finansial Anda tiba-tiba datang mendadak, baik untuk kebutuhan keluarga, pendidikan, kesehatan, maupun keperluan produktif lainnya.

Namun, tak perlu khawatir. Manajemen keuangan yang baik tidak berarti mengharuskan Anda untuk menghindari segala jenis pendanaan. Bila diperlukan, Anda bisa memanfaatkan pembiayaan untuk hal-hal produktif, seperti memulai atau mengembangkan usaha sendiri.

Jika Anda membutuhkan solusi keuangan yang tepercaya untuk modal usaha, BFI Finance hadir dengan layanan pembiayaan dengan jaminan BPKB Motor, BPKB Mobil, atau Sertifikat Rumah/Ruko/Rukan.

Semua layanan pembiayaan di BFI Finance sudah berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga dapat diandalkan sebagai lembaga pembiayaan yang kredibel. Dengan menjaga emotional spending dan didukung oleh pembiayaan yang tepat, finansial Anda akan terasa lebih terjaga karena #SelaluAdaJalan bersama BFI Finance.

Baca juga: Mengenal Gaya Hidup Konsumerisme: Definisi, Penyebab, dan Dampak

Kategori : Gaya Hidup
Sarah

Sarah

Content Writer & SEO

Sarah merupakan seorang SEO Strategist dan Content Writer dengan pengalaman lebih dari dua tahun di bidang literasi keuangan dan informasi umum seperti gaya hidup, bisnis, serta edukasi publik. Lulusan Ilmu Komunikasi dari Binus University ini memiliki minat kuat pada pengembangan konten yang informatif dan relevan bagi pembaca.