Gaya Hidup

Apa itu Doom Spending? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Penulis: Sarah Nadhifa
Diterbitkan: 07 January, 2026
45
Apa itu Doom Spending? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Doom spending Gen Z menjadi istilah yang belakangan ramai dibahas di media sosial dan sering dikaitkan dengan gaya hidup konsumerisme di era digital. Di tengah derasnya arus tren dan gaya hidup online, kebiasaan belanja pun kian mudah terbentuk tanpa disadari.

Lantas, apa itu doom spending dan mengapa fenomena ini banyak terjadi? Simak penjelasan berikut untuk mengetahui pengertian serta gambaran umumnya.

 

Apa Itu Doom Spending?

Doom spending adalah kebiasaan mengeluarkan uang secara spontan sebagai respons terhadap tekanan emosional, seperti rasa cemas, lelah mental, atau ketidakpastian. Situasi ini sering muncul setelah seseorang terpapar berita negatif atau suasana hati yang sedang buruk.

Tanpa disadari, belanja dijadikan pelampiasan untuk mencari rasa lega sementara. Barang yang dibeli pun sering kali bukan kebutuhan utama, melainkan sekadar cara untuk memperbaiki perasaan sesaat, meski berisiko mengganggu kondisi keuangan.

Perilaku ini kerap berjalan seiring dengan doom scrolling, yaitu kebiasaan terus mengikuti kabar atau konten bernada negatif di media sosial. Paparan tersebut dapat memperkuat rasa pesimis dan akhirnya mendorong seseorang semakin impulsif dalam berbelanja.

 

Penyebab Doom Spending

Untuk memahami mengapa kebiasaan ini bisa terjadi, penting melihat faktor-faktor yang mendorong seseorang melakukan doom spending. Berikut beberapa penyebab doom spending yang paling umum dan sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari:

1. Kecemasan atau Ketidakpastian

Saat seseorang merasa hidupnya tidak terkendali, belanja sering menjadi cara cepat untuk merasa bisa mengatur sesuatu. Membeli barang memberi rasa puas sesaat dan seolah memberi kontrol atas hidup, meski sebenarnya masalah yang dirasakan tidak terselesaikan. Kebiasaan ini bisa membuat seseorang terus belanja tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya.

2. Pengaruh Media Sosial

Platform seperti Instagram dan TikTok sering membuat pengguna ingin ikut tren agar terlihat keren atau sukses. Melihat orang lain memamerkan barang atau gaya hidup tertentu bisa membuat seseorang merasa harus meniru, meski sebenarnya belum tentu sesuai kebutuhan atau kemampuan keuangan mereka. Hal ini mendorong kebiasaan belanja impulsif tanpa perencanaan.

3. Stres atau Depresi

Saat seseorang merasa sedih, stres, atau tertekan, seseorang kadang mencari pelarian dengan belanja. Membeli sesuatu bisa memberi rasa senang sementara dan membuat mood terasa lebih baik, meski sebenarnya masalah yang dirasakan belum selesai.

4. Diskon dan Promosi

Saat banyak toko atau merek menawarkan diskon besar atau promo menarik, orang sering tergoda untuk membeli barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Tawaran ini membuat belanja terasa menguntungkan, padahal bisa menambah pengeluaran yang tidak perlu.

Baca juga: Literasi Keuangan: Pengertian, Manfaat, dan Tingkatannya

 

Dampak Doom Spending

Doom spending bisa menimbulkan dampak serius bagi kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa akibat yang sering muncul akibat kebiasaan belanja berlebihan ini:

1. Penurunan Kesehatan Mental

Saat pengeluaran terus meningkat karena kebiasaan belanja berlebihan, kemampuan untuk menabung atau berinvestasi pun ikut berkurang. Fenomena ini dikenal sebagai doom spending effect, di mana pengeluaran impulsif mengganggu kestabilan keuangan. Akibatnya, rencana keuangan jangka panjang bisa terganggu, dan kesempatan untuk menyiapkan dana darurat atau mencapai tujuan finansial menjadi lebih sulit.

2. Stres Finansial

Ironisnya, belanja untuk meredakan stres justru bisa menimbulkan stres baru terkait keuangan. Pengeluaran yang terus bertambah tanpa kontrol membuat seseorang terjebak dalam lingkaran setan, di mana stres emosional mendorong belanja dan belanja menambah stres finansial.

3. Utang Menumpuk

Pengeluaran yang tidak terkendali sering membuat seseorang tergoda menggunakan kartu kredit lebih dari kemampuan yang dimiliki. Akibatnya, utang menumpuk dan bunga kartu kredit membuat beban finansial semakin berat sehingga mengganggu kestabilan keuangan sehari-hari.

 

Cara Mengatasi Doom Spending

Agar kebiasaan doom spending tidak terus berlanjut, penting mengetahui cara mengelola pengeluaran dengan lebih bijak. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi perilaku belanja berlebihan:

1. Tetapkan Anggaran Belanja

Membuat daftar pengeluaran setiap bulan membantu melihat kemana uang pergi. Dengan batasan untuk kebutuhan dan hiburan, serta sebagian disisihkan untuk tabungan, pengaturan keuangan menjadi lebih jelas dan pengeluaran bisa lebih terkendali.

2. Mengenali Pemicu Emosional

Salah satu cara mengenali doom spending adalah melihat apa yang biasanya membuat seseorang ingin belanja berlebihan. Misalnya merasa tegang karena pekerjaan, khawatir soal masa depan, atau terpengaruh teman dan konten di media sosial. Menyadari pemicu ini membuat orang lebih gampang tanggap saat dorongan untuk membeli muncul.

Baca juga: Cara Mengatur Keuangan Bagi Generasi Milenial

3. Berlatih Mindful Spending

Mindful spending berarti memperhatikan setiap pembelian sebelum membelinya. Saat ingin membeli sesuatu, seseorang akan menilai apakah barang itu prioritas atau sekadar keinginan sesaat. Dengan kebiasaan ini, belanja impulsif bisa dikurangi dan pengelolaan uang menjadi lebih bijak.

4. Manfaatkan Alat Manajemen Keuangan

Aplikasi untuk mengatur keuangan memungkinkan seseorang memantau setiap pengeluaran yang dilakukan. Beberapa aplikasi bahkan menampilkan ringkasan mingguan atau bulanan, memperlihatkan kategori pengeluaran yang paling banyak menyedot uang. Cara ini memudahkan seseorang untuk mengenali kebiasaan belanja dan menilai apakah pengeluaran sudah sesuai atau perlu dikurangi.

5. Ciptakan Aktivitas Pengganti

Alih-alih membeli barang saat merasa stres atau cemas, mencari kegiatan lain bisa jadi cara yang lebih baik untuk menenangkan diri, misalnya bergerak dengan olahraga ringan, mencoba meditasi, atau sekadar bercakap-cakap dengan teman dekat. Aktivitas ini memberi rasa lega dan nyaman secara emosional tanpa menambah pengeluaran.

 

Itulah penjelasan mengenai doom spending, mulai dari pengertian hingga cara mengatasinya. Menerapkan strategi seperti anggaran, mindful spending, serta aktivitas pengganti belanja dapat membantu menjaga keuangan tetap sehat dan mengurangi stres emosional.

Mengatur uang dengan rapi menjadi kunci untuk mencegah perilaku belanja berlebihan. Perencanaan yang matang membuat seseorang lebih siap menghadapi pengeluaran mendadak tanpa tergoda membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Apabila sewaktu-waktu Anda memerlukan dana tambahan sementara tabungan belum cukup, BFI Finance bisa menjadi solusi cepat. Dengan jaminan BPKB motor, BPKB mobil, atau sertifikat rumah, ruko, dan rukan, pengajuan pembiayaan bisa berjalan lancar dan jelas.

Dengan pengalaman lebih dari 40 tahun serta berizin resmi dari  OJK, BFI Finance menawarkan layanan yang aman dan transparan. Pembiayaan yang terencana membantu menjaga pengeluaran tetap terkendali, mencegah belanja impulsif, dan membuat kondisi keuangan lebih tenang. Jadi, jangan khawatir lagi karena #SelaluAdaJalan bersama BFI Finance!

Baca juga: Inklusi Keuangan: Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Bersama

Kategori : Gaya Hidup
Sarah Nadhifa

Sarah Nadhifa

Content Writer & SEO

Sarah merupakan seorang SEO Strategist dan Content Writer dengan pengalaman lebih dari dua tahun di bidang literasi keuangan dan informasi umum seperti gaya hidup, bisnis, serta edukasi publik. Lulusan Ilmu Komunikasi dari Binus University ini memiliki minat kuat pada pengembangan konten yang informatif dan relevan bagi pembaca.