Artikel

Sering Terjadi, Kenali Apa Itu Hustle Culture dan Cara Menyikapinya

2022-08-09 00:00:00 1363
Sering Terjadi, Kenali Apa Itu Hustle Culture dan Cara Menyikapinya

Menurut sebagian orang, memiliki pekerjaan dan berdedikasi dengan pekerjaan adalah standar kesuksesan dan kemakmuran seseorang.

Pada kenyataanya, dalam lingkungan kerja, karyawan yang mendapatkan pekerjaan dan tanggung jawab memang harus berdedikasi dan bertanggung jawab atas apa yang diberikan. 

Namun, bukan berarti bisa menempatkan pekerjaan di atas segalanya termasuk mengorbankan kehidupan sosial dan pribadi. Kebiasaan ini sering disebut dengan hustle culture.

Lalu, apa itu hustle culture? Simak informasi selengkap di bawah ini.

 

Pengertian Hustle Culture 

Hustle culture merupakan gaya hidup seseorang yang terus bekerja dan hanya beristirahat dengan waktu yang singkat. Hal ini dilakukan karena mereka yang menjalankan budaya tersebut merasa bahwa dengan melakukannya akan membuat dirinya sukses.

Orang dengan budaya seperti ini sering dinamakan workaholic atau gila kerja. Sebenarnya, budaya ini sudah ada sejak tahun 1970an di mana pada saat itu perkembangan industri semakin melaju dan para karyawan dituntut lebih untuk bekerja dengan tempo yang cepat tanpa adanya batasan waktu.

Di tahun 1990, perusahaan teknologi juga mulai menguasai dunia sehingga muncul standar baru bagi anak muda untuk bekerja secara berlebihan. 

Di Indonesia sendiri, hustle culture ini sering dikatikan dengan budaya kerja para karyawan di perusahaan rintisan teknologi dengan ritme kerja yang sangat cepat (fast-paced). Bukan hanya ritme kerja yang cepat, bekerja lebih dari ketentuan jam kerja juga seringkali dialami oleh para pekerjanya. 

Ciri-Ciri Hustle Culture 

Ciri-ciri dari budaya kerja ini meliputi hal berikut. Yang pertama adalah selalu memikirkan pekerjaan dan tidak memiliki waktu untuk santai dan beristirahat. Selanjutnya adalah selalu merasa bersalah ketika sedang santai, mengambil jatah cuti, ataupun saat sedang beristirahat sekalipun.

Ciri orang atau perusahaan yang memiliki budaya ini juga dapat dilihat dari target yang tidak realistis yang menyebabkan karyawan atau diri sendiri menjadi lelah dalam bekerja dan burnout. Yang terakhir, orang dengan budaya hustle culture jarang merasa puas dengan hasil kerja yang didapatkan. 

Hustle Culture

Image Source: Freepik/wayhomestudio

Penyebab Hustle Culture 

Penyebab pertama yang menyebabkan berkembangnya hustle culture ini adalah toxic positivity dari rekan kerja atau atasan.

Toxic positivity adalah kondisi dimana seseorang akan menuntut dirinya sendiri atau orang lain untuk memaklumi emosi negatif dan selalu berpikir positif bahkan dalam kondisi stres.

Orang yang menanamkan prinsip toxic positivity dalam hidupnya akan meyakinkan atau mengatakan hal “Semua orang merasa lelah, tapi jangan berarti gampang menyerah” atau “Kalau mengeluh terus, kapan suksesnya?” maupun “Kalau yang lain bisa, kamu harus bisa” tanpa mengetahui keadaan dan kemampuan diri sendiri atau orang lain. Perkataan tersebutlah yang menjadikan seseorang merasa tidak enakan untuk beristirahat dan terus berdedikasi dalam bekerja. 

Selanjutnya, teknologi yang semakin canggih dimana media komunikasi tidak selalu harus melalui tatap muka, namun dapat dilakukan dengan pertemuan atau rapat, menelepon, dan berkirim pesan. Hal ini mendukung hustle culture dapat dilakukan di luar jam kerja yang ditetapkan. 

Selain itu, tidak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan orang akan berasumsi bahwa semakin sibuk seseorang, maka akan semakin besar kesempatan mendapatkan posisi pekerjaan yang tinggi, pendapatan yang lebih baik, dan kesuksesan seseorang.

Itulah beberapa penyebab budaya gila kerja makin merebak dan terus bermunculan di dunia kerja bahkan tidak hanya pada perusahaan rintisan melainkan korporasi lainnya. 

Dampak Hustle Culture 

Ada beberapa dampak buruk bagi orang yang menjalankan hustle culture. Berikut adalah penjelasan berdasarkan penelitian yang dilakukan. 

Menurut penelitian Mental Health Foundation, sekitar 14,7% pekerja di Inggris mengalami gangguan kesehatan mental akibat stres bekerja. 

Penelitian lain mengatakan, negara Jepang menunjukan angka pekerja yang mengalami gangguan kesehatan dan mental lebih tinggi 3x dari rata-rata negara di dunia. 

Dilansir dari Jurnal Occupation Medicine, orang dengan jam kerja yang lebih panjang akan mengalami depresi dan gangguan tidur. 

Hustle culture ini juga dapat memberikan dampak buruk bagi kehidupan sosial karena tidak memiliki waktu untuk kehidupan sosial maupun kehidupan pribadi. 

Kapan Hustle Culture Menyerang Karyawan? 

Budaya gila kerja biasanya terjadi saat memasuki masa dewasa muda hingga dewasa. Dewasa muda sering mendapatkan tuntutan untuk bergerak maju dari orang di sekitarnya, hal inilah yang menyebabkan para dewasa muda mulai bertanya-tanya akan tujuan hidup dan arti kesuksesan dalam hidup. Akibatnya, mereka akan bekerja di luar jam kerja demi mendapatkan pekerjaan dan pendapatan yang lebih baik.

Ternyata bukan hanya dewasa muda, mahasiswa dan siswa juga sering mengalaminya. Sebagai contoh, siswa yang ingin masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya atau perguruan tinggi, akan menjalankan kursus di luar jam belajar di sekolah untuk masuk ke sekolah impiannya.

Begitupun dengan mahasiswa, mahasiswa yang aktif cenderung akan dilihat atau dilirik oleh perusahaan dibanding mahasiswa yang tidak memiliki keterampilan dan pengalaman. Hal inilah yang menyebabkan mahasiswa akan mengikuti beberapa kegiatan dan mendalami kemampuan dan keterampilan di luar bidang pendidikan demi mendapatkan masa depan yang lebih baik. 

Menyikapi Hustle Culture 

Untuk menyikapi budaya gila kerja ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yaitu tidak membandingkan diri dengan orang lain. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk mencapai kesuksesan, bisa dalam waktu yang singkat maupun waktu yang panjang.

Kesuksesan setiap orang tidak dapat dibandingkan karena proses dan faktor yang mendukungnya pun berbeda-beda. Pastikan Anda tetap berkembang dan lebih baik dari hari ke hari dan lebih baik dari pribadi sebelumnya tanpa membandingkan diri dengan orang lain. 

Yang berikutnya, mencari hobi di luar pekerjaan. Anda dapat menenangkan dan menyenangkan hati dan perasaan dengan menjalani hobi atau kegiatan lain selain bekerja. Jika tidak memiliki aktivitas lain selain bekerja, maka Anda akan terbiasa untuk bekerja di waktu luang.

Anda juga harus paham atas batasan dan kapasitas diri. Jika dirasa fisik dan mental sudah lelah bekerja, Anda dapat beristirahat sebentar dan mencari hiburan sejenak. Hindari menunda pekerjaan agar Anda terhindar dari pekerjaan yang tak kunjung usai dan perlu menyelesaikannya di hari libur atau waktu luang. 

Untuk mencegah dan menghindari budaya gila kerja, beberapa perusahaan sudah menerapkan aktivitas selain bekerja seperti berkumpul bersama, olahraga bersama, gathering, dan outing untuk mewujudkan work life balance. Selain itu, beberapa organisasi di suatu perusahaan juga menerapkan aturan untuk tidak menggangu rekan kerja lainnya di luar jam kerja yang telah ditentukan. 

Sambut Hari Kemerdekaan Dengan Promo #PastiMerdeka dari BFI Finance!

Butuh pinjaman dana cepat untuk modal usaha dan keperluan lainnya? Ajukan pinjaman di BFI Finance saja! Dalam rangka menyambut hari kemerdekaan di bulan Agustus 2022, BFI Finance memiliki promo #PastiMerdeka dimana debitur berkesempatan mendapatkan cashback hingga Rp 77 Juta Rupiah!

Ketentuan selengkapnya dapat diakses melalui tautan berikut ini

Informasi mengenai pinjaman dan promo menarik lainnya dapat Anda akses di link berikut.

Informasi Pengajuan Pinjaman Jaminan BPKB Motor

Informasi Pengajuan Pinjaman Jaminan BPKB Mobil

Informasi Pengajuan Pinjaman Jaminan Sertifikat Rumah

Itulah informasi mengenai budaya gila kerja atau hustle culture mulai dari pengertian, penyebab, dampak, dan cara mensiasatinya ala BFI Finance. Semoga artikel ini bermanfaat. Anda dapat melihat informasi lainnya mengenai keuangan, gaya hidup, dan pinjaman di BFI Blog. Update setiap Senin-Jum’at!

Sumber: