Syariah

Konsep Rezeki dalam Islam dan Jalurnya Menurut Al-Qur’an

Diterbitkan: 09 February, 2026
Diperbarui: 09 February, 2026
27
Konsep Rezeki dalam Islam dan Jalurnya Menurut Al-Qur’an

Rezeki sering kali dipahami sebagai penghasilan atau harta yang dimiliki seseorang. Padahal, dalam ajaran Islam, makna rezeki jauh lebih luas dan tidak selalu berwujud materi.

Setiap manusia memiliki perjalanan rezekinya masing-masing, dengan bentuk, waktu, dan cara yang berbeda. Pemahaman yang tepat tentang rezeki akan membantu Anda menjalani hidup dengan lebih tenang, tidak mudah gelisah, serta tetap optimis dalam berusaha.

Untuk itu, mari kita pahami konsep rezeki dalam Islam beserta jalur untuk menjemputnya sesuai pedoman Al-Qur’an.

 

Pengertian Rezeki

Secara bahasa, rezeki (rizq) berarti pemberian atau sesuatu yang dimanfaatkan. Dalam pengertian Islam, rezeki adalah segala bentuk karunia Allah yang diberikan kepada makhluk-Nya untuk menunjang kehidupan.

Rezeki tidak hanya terbatas pada materi. Kesehatan, keluarga yang harmonis, anak yang shalih, ilmu yang bermanfaat, pekerjaan yang halal, pertemanan yang baik, hingga waktu yang produktif, semuanya termasuk rezeki.

Bahkan, keadaan hati yang tenang dan dijauhkan dari musibah pun merupakan rezeki yang sering tidak disadari. Mengingat maknanya yang luas, pembahasan tentang rezeki dalam Islam selalu menekankan bahwa rezeki tidak selalu terlihat secara kasat mata. Kadang rezeki datang dalam bentuk “ditahan dari keburukan”, bukan “ditambahkan kenikmatan”.

Konsep Rezeki dalam Islam

Konsep rezeki dalam Islam adalah bahwa Allah SWT merupakan sumber dan pemilik rezeki yang mutlak. Manusia tidak bisa menentukan rezeki tanpa izin Allah, namun manusia tetap wajib berusaha dan mencari jalan yang halal. Dalam hal ini, terdapat keseimbangan antara tiga hal berikut:

  • Keyakinan (iman): Allah yang memberi rezeki.
  • Ikhtiar (usaha): Manusia wajib menjemput rezeki dengan kerja yang benar.
  • Tawakal: Hasil akhirnya diserahkan kepada Allah setelah usaha maksimal dilakukan.

Islam tidak mengajarkan mental pasrah tanpa usaha. Namun, Islam juga tidak mendorong seseorang menjadi terlalu cemas karena merasa semua bergantung pada dirinya. Rezeki berada di tangan Allah, sementara usaha adalah kewajiban manusia.

 

Baca juga: Inspirasi 10 Bisnis Syariah yang Menguntungkan dan Mudah Dimulai

 

Jalur Rezeki Menurut Al-Qur’an

Al-Qur’an mengajarkan bahwa rezeki dapat datang melalui banyak jalur. Berikut beberapa cara menjemput rezeki menurut Al-Qur’an:

1. Rezeki yang Telah Dijamin

Dalam Islam, Anda tidak perlu hidup dalam ketakutan berlebihan soal rezeki. Allah Swt. telah menjamin rezeki setiap makhluk. Keyakinan ini bukan untuk membuat manusia tidak berusaha, tetapi agar hati tetap tenang dan tidak mudah putus asa ketika keadaan sedang sempit. Hal ini ditegaskan dalam QS. Hud (11): 6, yang artinya:

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).”

2. Rezeki yang Diperoleh karena Usaha

Walaupun rezeki datang dari Allah, Islam tetap memerintahkan manusia untuk menjemputnya melalui ikhtiar. Usaha yang halal seperti bekerja, berdagang, atau mengembangkan skill adalah bagian dari ketaatan. Perintah untuk berusaha ini disebutkan dalam QS. Al-Jumu’ah (62): 10 yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

“Apabila salat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”

3. Rezeki karena Bersyukur

Syukur bukan sekadar ucapan, tetapi sikap hati yang mengakui nikmat Allah dan menggunakannya untuk kebaikan. Ketika syukur dijaga, nikmat akan ditambah, baik dalam jumlah maupun keberkahannya. Janji Allah tentang syukur termuat dalam QS. Ibrahim (14): 7, yakni:

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”

4. Rezeki karena Istigfar

Istigfar adalah amalan yang menenangkan sekaligus menguatkan harapan, karena seorang hamba kembali kepada Allah dan memperbaiki dirinya. Dalam Al-Qur’an, istigfar juga dikaitkan dengan kelapangan rezeki, termasuk bertambahnya harta dan keturunan. Keterkaitan ini dapat ditemukan dalam QS. Nuh (71): 10–12 yang berarti:

“(Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.”

5. Rezeki karena Sedekah

Sedekah menunjukkan keyakinan bahwa rezeki tidak akan habis karena memberi. Justru, memberi dengan niat yang benar dapat menjadi sebab bertambahnya kebaikan dan keberkahan. Gambaran indah tentang pelipatgandaan sedekah dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah (2): 261 yang artinya:

“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.”

6. Rezeki karena Menikah

Sebagian orang menunda menikah karena takut tidak mampu secara ekonomi. Namun, Al-Qur’an meluruskan kekhawatiran itu melalui QS. An-Nur (24): 32, yaitu:

“Nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu, baik laki-laki maupun perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

7. Rezeki karena Anak

Islam mengajarkan bahwa anak bukan alasan untuk takut miskin. Allah SWT menegaskan bahwa rezeki anak dan orang tua berada dalam jaminan-Nya. Penegasan ini terdapat dalam QS. Al-Isra’ (17): 31, yakni:

“Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan (juga) kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka itu adalah suatu dosa yang besar.”

8. Rezeki Tak Terduga

Ada kalanya rezeki datang dari arah yang sama sekali tidak Anda perkirakan. Al-Qur’an mengajarkan bahwa takwa dan tawakal dapat menjadi sebab Allah membukakan jalan keluar sekaligus rezeki yang tidak disangka. Janji ini tertulis dalam QS. At-Talaq (65): 2–3, yang artinya:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”

Itulah pembahasan mengenai rezeki menurut Islam, mulai dari pengertian, konsep rezeki dalam Islam, hingga jalur rezeki menurut Al-Qur’an yang dapat Anda renungkan dan amalkan dalam kehidupan. Dengan memahami konsep ini, Anda bisa menjalani ikhtiar dengan lebih tenang dan optimis bahwa selalu ada jalan untuk setiap kebutuhan hidup.

Apabila saat ini Anda sedang membutuhkan solusi finansial untuk keperluan mendesak maupun produktif, Anda dapat memanfaatkan Pembiayaan Syariah dari Unit Usaha Syariah (UUS) BFI Finance (BFI Finance Syariah). Tentunya, semua transaksi pembiayaan dilakukan sesuai prinsip syariah dengan proses yang transparan.

Selain itu, layanan pembiayaan di BFI Finance sudah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi, tidak perlu khawatir. Apa pun yang Anda butuhkan bisa dipenuhi dengan #JauhLebihTenang bersama BFI Finance Syariah.

 

Baca juga: 10 Contoh UMKM yang Bisa Menjadi Inspirasi Bisnis

 

Kategori : Syariah
Kukut Ragil Walujodjati

Kukut Ragil Walujodjati

SEO & Content Writer

Kukut Ragil Walujodjati adalah SEO Strategist dan Content Writer dengan pengalaman lebih dari 3 tahun yang berfokus pada pembiayaan berbasis jaminan. Kukut Ragil merupakan lulusan Far Eastern Federal University, program studi Manajemen. Bidang penulisan yang dikuasainya meliputi topik pinjaman, bisnis, UMKM, gaya hidup, dan edukasi finansial. Ia secara aktif mengikuti perkembangan regulasi dan dinamika pasar pembiayaan di Indonesia, sehingga setiap artikel yang ditulis selalu mengutamakan ketepatan konteks dan relevansi praktik di lapangan. Tujuan utamanya adalah membantu pembaca memahami keputusan finansial secara lebih matang dan terinformasi.