Dalam bisnis ritel, penataan produk di rak merupakan hal yang perlu diperhatikan dengan baik. Penempatan produk yang tepat dapat membantu meningkatkan penjualan sekaligus memberikan pengalaman berbelanja yang lebih nyaman bagi pelanggan.
Salah satu strategi yang sering diterapkan adalah cross-merchandising. Lantas, apa yang dimaksud dengan cross-merchandising dan bagaimana cara menerapkannya di toko? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Apa Itu Cross-Merchandising?
Cross-merchandising adalah cara menata produk dengan menempatkan barang dari kategori berbeda, tetapi masih saling berkaitan, di rak yang berdekatan. Tujuannya agar pembeli tertarik membeli lebih dari satu produk.
Contohnya, bumbu kentang goreng diletakkan di dekat freezer kentang goreng beku. Saat membeli kentang goreng, pembeli bisa teringat untuk membeli bumbunya atau tertarik mencoba karena terlihat cocok digunakan bersama.
Strategi cross-merchandising membantu pelanggan lebih mudah menemukan produk yang saling melengkapi. Cara ini juga sering digunakan di berbagai toko, seperti toko kelontong, swalayan, apotek, toko elektronik, hingga department store.
Mengapa Cross-Merchandising Penting bagi Bisnis?
Cross-merchandising dapat membantu meningkatkan penjualan sekaligus membuat pengalaman berbelanja terasa lebih praktis. Strategi ini juga memberi banyak keuntungan bagi toko. Berikut beberapa alasan mengapa cross-merchandising layak diterapkan:
- Memperkenalkan produk baru: Produk baru bisa diletakkan di dekat barang yang sering dibeli pelanggan. Cara ini membuat produk lebih mudah terlihat sehingga membantu meningkatkan awareness.
- Mendorong peningkatan penjualan: Penempatan produk yang saling berkaitan dapat membuat pelanggan membeli lebih banyak barang dalam satu waktu.
- Memicu pembelian spontan: Saat melihat produk yang ditata berdekatan, pelanggan bisa tertarik membeli barang yang sebelumnya tidak mereka rencanakan.
- Menarik pelanggan baru: Penataan produk yang saling melengkapi dapat membuat orang sadar bahwa mereka membutuhkan barang tersebut, lalu memutuskan untuk membelinya.
- Mengingatkan kebutuhan pelanggan: Strategi ini sering digunakan untuk mengingatkan pelanggan tentang barang lain yang biasanya digunakan bersama produk yang mereka beli.
- Membuat belanja lebih cepat: Produk yang saling berkaitan ditempatkan di area yang sama, sehingga pelanggan tidak perlu mencari di banyak rak.
- Memberikan inspirasi baru: Pelanggan bisa mendapatkan ide baru tentang cara menggunakan atau mengombinasikan beberapa produk.
- Meningkatkan loyalitas pelanggan: Ketika proses belanja terasa lebih mudah dan nyaman, pelanggan cenderung kembali ke toko yang sama.
Baca juga: Apa Itu Endorse: Strategi Marketing untuk Keberhasilan Bisnis
Contoh Penerapan Cross-Merchandising
Cross-merchandising dapat diterapkan di berbagai jenis toko karena strategi ini membantu pelanggan menemukan produk yang saling melengkapi dengan lebih mudah. Berikut beberapa contoh penerapan cross-merchandising di berbagai tempat:
1. Supermarket dan Minimarket
Contoh cross-merchandising di minimarket atau supermarket adalah menaruh marshmallow, cokelat batang, dan biskuit dalam satu rak. Cara ini membuat pembeli langsung melihat bahan yang bisa digunakan bersama.
Contoh lain adalah pasta yang diletakkan berdekatan dengan saus tomat dan keju parmesan. Penataan seperti ini membantu pembeli membeli bahan yang dibutuhkan untuk satu menu sekaligus.
2. Toko Pakaian
Di toko pakaian, strategi ini bisa dilakukan dengan menata beberapa produk yang saling cocok dalam satu area. Misalnya, pakaian olahraga dipajang bersama sepatu lari dan botol minum agar pembeli langsung melihat perlengkapan yang bisa digunakan bersamaan.
Contoh lain, pakaian untuk cuaca panas dapat ditempatkan berdekatan dengan aksesori seperti topi dan kacamata hitam sehingga pelanggan lebih mudah menemukan barang yang saling melengkapi.
3. Toko Elektronik
Di toko elektronik, produk pelengkap bisa diletakkan dekat dengan barang utamanya. Misalnya, kabel charger, earphone, dan casing HP ditempatkan di area yang sama dengan rak ponsel. Cara ini membuat pelanggan lebih mudah melihat aksesori yang mungkin mereka butuhkan.
Contoh lainnya, joystick dan headset gaming dapat diletakkan di dekat konsol video game agar pembeli langsung mengetahui perlengkapan yang bisa digunakan bersama.
4. Toko Peralatan Rumah Tangga
Di toko peralatan rumah tangga, cross-merchandising bisa dilakukan dengan menaruh produk yang saling berkaitan dalam satu area. Misalnya, wajan antilengket ditempatkan dekat dengan bumbu atau bahan memasak agar pembeli langsung terpikir untuk memasak.
Contoh lain adalah lilin aromaterapi diletakkan di dekat perlengkapan mandi. Penataan ini bisa memberi ide kepada pelanggan untuk menciptakan suasana spa di rumah.
Baca juga: Strategi Pemasaran Produk : Alasan dan Hal yang Perlu Dipertimbangkan
Strategi Cross-Merchandising
Agar cross-merchandising berjalan efektif, penataan produk perlu dilakukan dengan strategi yang tepat. Berikut beberapa strategi cross-merchandising yang dapat diterapkan di toko:
1. Pilih Tema Tertentu
Cross-merchandising juga bisa disesuaikan dengan momen tertentu atau perubahan musim. Penataan seperti ini membantu pelanggan langsung menemukan barang yang biasanya dibutuhkan pada waktu tersebut.
Sebagai contoh, saat mendekati Lebaran, toko dapat menaruh sirup, kue kaleng, dan toples di area yang sama. Sementara ketika musim hujan tiba, payung, jas hujan, dan sandal antiselip bisa ditempatkan di dekat pintu masuk agar mudah terlihat oleh pengunjung.
2. Kenali Pola Belanja Pelanggan
Banyak toko ritel memanfaatkan data penjualan untuk mengetahui pola belanja pelanggan. Informasi ini biasanya berasal dari sistem kasir yang sudah terhubung dengan database toko.
Dari data tersebut, toko dapat melihat barang apa saja yang sering dibeli dalam waktu yang sama. Informasi ini kemudian digunakan untuk menata produk agar lebih mudah ditemukan dan mendorong pembelian tambahan.
3. Buat Display Menarik
Tampilan produk yang menarik dapat membuat cross-merchandising lebih efektif. Warna, pencahayaan, dan susunan barang bisa diatur dengan rapi agar pelanggan tertarik melihat dan mengambil produk tambahan.
Display juga bisa disesuaikan untuk barang yang sedang promo. Cara ini membantu pelanggan lebih mudah menemukan produk yang harganya sedang lebih hemat.
4. Gunakan Teknik Display Barang yang Tepat
Agar strategi ini berjalan dengan baik, penataan produk di rak juga perlu diperhatikan. Barang yang ingin lebih ditonjolkan sebaiknya diletakkan sejajar dengan tinggi mata pelanggan supaya mudah terlihat.
Produk lain yang masih berkaitan bisa ditempatkan di rak bagian atas atau bawah. Jika memungkinkan, barang tersebut juga bisa diletakkan di sisi yang berdekatan dengan produk utama.
5. Letakkan Produk Secara Tak Terduga
Strategi lain dalam cross-merchandising adalah menaruh produk di tempat yang tidak biasa. Misalnya, permen marshmallow atau mainan kecil yang tiba-tiba terlihat di area rak tertentu.
Penempatan seperti ini dilakukan agar pembeli menyadari bahwa toko tersebut juga menyediakan produk tersebut. Dengan begitu, pelanggan bisa tertarik untuk membelinya meskipun sebelumnya tidak berencana.
6. Tata Produk yang Berpotensi Terjual Spontan di Tempat Strategis
Salah satu tujuan cross-merchandising adalah mendorong pembelian spontan agar penjualan meningkat. Contoh yang sering terlihat adalah menaruh permen dan cokelat di dekat meja kasir.
Produk seperti permen dan cokelat mudah menarik perhatian karena letaknya terlihat jelas saat pelanggan akan membayar. Meskipun harganya tidak terlalu tinggi, pembelian kecil seperti ini bisa menambah total penjualan toko.
Itulah penjelasan mengenai cross-merchandising, mulai dari pengertian hingga strateginya. Dengan penataan produk yang tepat, toko dapat membantu pelanggan menemukan barang yang saling melengkapi sekaligus mendorong peningkatan penjualan.
Selain strategi penataan produk, manajemen toko juga harus siap menghadapi kebutuhan dana operasional lainnya, seperti untuk menambah stok atau memperbarui display. Dalam situasi seperti ini, penting untuk memilih solusi pembiayaan yang memiliki ketentuan yang jelas dan proses yang transparan.
Salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan adalah pembiayaan dari BFI Finance. Anda dapat mengajukan pembiayaan dengan jaminan BPKB motor, BPKB mobil, maupun sertifikat rumah, ruko, atau rukan sesuai kebutuhan.
BFI Finance telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi, ketika terdapat kebutuhan tidak terduga, Anda tetap memiliki solusi pembiayaan yang dapat diandalkan untuk mewujudkan rencana finansial karena #SelaluAdaJalan bersama BFI Finance.
Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Strategi Pemasaran 4P dan Perkembangannya