Dalam dunia bisnis dan investasi, Capital Expenditure atau Capex adalah istilah yang mengacu pada pengeluaran perusahaan untuk mendukung pengembangan bisnis dalam jangka panjang. Capital expenditure atau belanja modal ini juga sering menjadi indikator kesehatan keuangan dan potensi pertumbuhan perusahaan di masa depan.
Bukan hanya soal pengeluaran besar, Capex berkaitan dengan keputusan strategis yang dapat memengaruhi keberlangsungan hingga scale up bisnis. Oleh karena itu, penting untuk memahami pengertian, jenis, hingga cara menghitung Capex agar Anda lebih paham bagaimana perusahaan mengelola pengeluarannya. Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut!
Apa Itu Capex?
Capex (Capital Expenditure) atau belanja modal adalah pengeluaran perusahaan untuk membeli, meningkatkan, merawat, atau memperpanjang umur aset jangka panjang yang digunakan dalam operasional bisnis, seperti mesin, bangunan, dan peralatan produksi. Pengeluaran ini biasanya dilakukan dalam skala besar karena bertujuan mendukung pertumbuhan dan kelangsungan bisnis di masa depan.
Berbeda dengan Opex (Operating Expenditure) yang digunakan untuk kebutuhan operasional harian, fokus Capex adalah pada investasi jangka panjang yang dapat meningkatkan kapasitas dan efisiensi perusahaan. Oleh karena itu, besarnya Capex juga sering menjadi pertimbangan penting bagi investor dalam menilai potensi perkembangan suatu perusahaan.
Jenis-Jenis Capex
Capex biasanya dibedakan berdasarkan kebutuhan penggunaannya di perusahaan. Berikut beberapa jenis Capital Expenditure yang umum digunakan:
1. Expansion Generated by New Products
Untuk meningkatkan pendapatan, perusahaan biasanya mengembangkan produk baru agar dapat menarik lebih banyak konsumen. Dalam prosesnya, Capex digunakan untuk membeli bahan maupun alat produksi terbaru yang mendukung pengembangan produk tersebut.
2. Project Mandated by Law
Jenis Capex ini digunakan untuk memenuhi aturan hukum, bukan untuk mencari keuntungan. Contohnya seperti pembelian alat pengolahan limbah agar limbah pabrik tidak mencemari lingkungan dan tetap sesuai dengan regulasi yang berlaku.
3. Equipment Replacement
Pengeluaran ini dilakukan ketika aset atau mesin perusahaan mengalami kerusakan dan sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Oleh karena itu, perusahaan perlu membeli mesin baru agar kegiatan produksi tetap berjalan lancar dan optimal.
4. Expansion to Meet Growth in Existing Products
Saat perusahaan ingin memperluas pasar dan mengembangkan bisnisnya, biasanya dibutuhkan biaya tambahan untuk mendukung proses ekspansi. Misalnya, membuka cabang baru di daerah lain yang memerlukan pembelian bangunan serta penyediaan mesin dan fasilitas pendukung lainnya.
Baca juga: 10 Hambatan dalam Bisnis dan Cara Mengatasinya
Perbedaan Capex dan Opex
Capex dan Opex sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki fungsi yang berbeda dalam pengelolaan keuangan perusahaan. Capex digunakan untuk pembelian, pengembangan, atau perawatan aset jangka panjang yang mendukung pertumbuhan bisnis, seperti mesin, bangunan, kendaraan operasional, hingga printer. Pengeluaran ini biasanya bernilai besar dan dicatat sebagai aset yang akan disusutkan.
Sementara itu, Opex merupakan biaya operasional harian perusahaan, seperti gaji karyawan, listrik, biaya marketing, sewa, hingga pembelian tinta printer. Pengeluaran Opex cenderung lebih kecil, dilakukan secara rutin, dan langsung dicatat sebagai beban operasional. Singkatnya, Capex berfokus pada investasi jangka panjang perusahaan, sedangkan Opex digunakan untuk menjaga operasional bisnis tetap berjalan setiap hari.
Cara Menghitung Capex
Cara menghitung Capex sebenarnya cukup sederhana, yaitu dengan menggunakan rumus berikut:
Capex = Perubahan PPE + Penyusutan
Keterangan:
- PPE (Property, Plant, and Equipment) merupakan nilai aset tetap perusahaan.
- Penyusutan ditambahkan kembali karena dapat mengurangi nilai PPE pada laporan keuangan.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan memiliki nilai PPE tahun sebelumnya sebesar Rp500 miliar dan meningkat menjadi Rp620 miliar pada tahun berjalan, dengan penyusutan Rp40 miliar. Maka perhitungan Capex-nya adalah:
(620−500)+40 = 160
Artinya, perusahaan tersebut mengeluarkan Rp160 miliar untuk investasi aset atau pengembangan fasilitas bisnisnya.
Baca juga: 12 Cara Meningkatkan Penjualan Untuk Omset Yang Lebih Besar Dengan Tepat
Fungsi Menghitung Capex
Menghitung Capex bukan hanya penting untuk laporan keuangan, tetapi juga membantu perusahaan dalam mengambil keputusan bisnis jangka panjang. Adapun beberapa fungsi Capex adalah:
- Sebagai acuan pengembangan bisnis: Perhitungan Capex dapat membantu perusahaan merencanakan kebutuhan aset dan pengembangan usaha dalam jangka panjang.
- Mendukung investasi masa depan: Aset dan alat produksi yang dibeli melalui Capex diharapkan dapat memberikan keuntungan di masa depan. Selain itu, pencatatan Capex yang baik juga dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap potensi perusahaan.
- Membantu memperhitungkan depresiasi aset: Menghitung Capex membantu perusahaan memahami penurunan nilai aset dari waktu ke waktu agar pengeluaran modal tetap terkontrol dan tidak menimbulkan kerugian.
- Mengetahui besarnya pengeluaran perusahaan: Dengan menghitung Capex, perusahaan dapat melihat besarnya biaya yang dikeluarkan untuk pembelian aset sekaligus memperkirakan kebutuhan pengeluaran serupa di masa mendatang.
Contoh Capex
Dalam praktiknya, Capex dapat diterapkan di berbagai jenis bisnis untuk mendukung pertumbuhan perusahaan. Berikut beberapa contohnya:
- Perusahaan teknologi membeli server baru untuk meningkatkan layanan cloud.
- Perusahaan manufaktur memperluas pabrik dan membeli mesin atau robot otomatisasi.
- Bisnis retail membuka toko baru atau memperbarui fasilitas gudang.
- Perusahaan energi membangun pembangkit maupun infrastruktur jaringan.
Itulah pembahasan seputar Capex, mulai dari pengertian, jenis, hingga cara menghitungnya yang penting dipahami dalam pengelolaan bisnis. Dengan memahaminya, Anda dapat lebih bijak dalam merencanakan pengeluaran perusahaan demi mendukung perkembangan usaha dalam jangka panjang.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan modal bisnis agar operasional dan rencana pengembangan usaha berjalan lebih lancar, BFI Finance menyediakan layanan pembiayaan dengan jaminan BPKB motor, BPKB mobil, hingga sertifikat rumah/ruko/rukan sesuai kebutuhan Anda.
Tak perlu khawatir, seluruh layanan pembiayaan BFI Finance telah berizin dan berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi, jangan ragu untuk mengembangkan bisnis dengan modal usaha yang mencukupi dan strategi yang lebih terencana karena #SelaluAdaJalan dari BFI Finance.
Baca juga: Simak Tips Bisnis Sukses Dalam Menjalankan Usaha Keluarga