Artikel

Kredit Produktif : Pengertian, Jenis, dan Contohnya 

2022-04-21 00:00:00 1898
Kredit Produktif : Pengertian, Jenis, dan Contohnya 

Sobat BFI, apakah Anda pernah mendengar perkataan dengan makna “Tak Masalah Berhutang Asal Punya Tujuan?”. Apa sebenarnya kita boleh bebas berhutang asalkan punya tujuan? Jawabannya adalah ya karena berhutang menjadi pilihan bagi masing-masing individu dalam mengelola dan menyelesaikan masalah keuangannya. Kali ini, BFI Finance akan membahas terkait berhutang dengan tujuan alias “Kredit Produktif”. Untuk informasinya, simak di bawah ini, ya. 

 

Pengertian Kredit Produktif 

Kredit produktif merupakan gabungan 2 kata kerja dari kredit dan produktif. Kredit sendiri adalah sebuah transaksi keuangan yang melibatkan pihak peminjam/debitur dan pihak pemberi pinjaman atau kreditur dan mewajibkan peminjam membayarkan sejumlah utang yang disepakati sesuai jangka waktu yang ditentukan. Sedangkan, produktif memiliki artian berupa kegiatan yang dapat menghasilkan sesuatu. 

Sehingga, kredit produktif diartikan sebagai kegiatan atau pinjaman yang diajukan oleh seseorang untuk tujuan menghasilkan sesuatu hal baru, baik berupa uang ataupun barang bernilai yang nantinya dapat dijadikan sebagai keuntungan. 

Jenis Kredit Produktif Berdasarkan Kegunaan 

Kredit Modal Kerja 

Berdasarkan kegunaan, kredit produktif juga dapat digunakan sebagai kredit modal kerja atau KMK. Kredit ini biasanya disediakan oleh bank untuk memberikan pinjaman modal bisnis. Dalam mengajukan kredit ini, Anda memerlukan jaminan yang dapat dijaminkan. 

Kredit Investasi 

Berikutnya adalah kredit investasi. Menurut OJK, kredit ini merupakan kredit yang mendukung atau menyediakan dana pembiayaan jangka panjang. Misal untuk membuka usaha, membangun sebuah pabrik, dan bangunan yang ditunjukan untuk keperluan usaha lainnya. Jenis kredit ini membutuhkan persyaratan berupan SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP). 

Jenis Kredit Produktif Berdasarkan Jangka Waktu

Jangka Pendek 

Jika dilihat dari jangka waktunya, kredit produktif dibagi menjadi dua yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Kredit jangka pendek biasanya memiliki tenor yang tidak terlalu panjang. Ada 2 kemungkinan yang dapat terjadi jika Anda mengambil tenor jangka pendek. Yang pertama adalah cicilan yang besar dengan jumlah pinjaman besar dan jumlah pinjaman yang kecil sehingga tenor juga tidak terlalu panjang. Untuk mendapatkan tenor jangka pendek dengan jumlah pinjaman yang tidak begitu besar, Anda bisa mengajukan pinjaman melalui lembaga pinjaman online atau rumah pembiayaan dengan jaminan aset yang tidak begitu mahal. 

Jangka Panjang 

Berbeda dengan jangka pendek, kredit produktif jangka panjang biasanya memiliki jumlah pinjaman yang lebih besar, mulai dari puluhan juta hingga miliaran. Untuk mengajukan pinjaman jangka panjang, Anda bisa mengajukan pinjaman ke bank atau rumah pembiayaan dengan jaminan seperti BPKB mobil atau sertifikat rumah. Di BFI Finance, Anda bisa mengajukan pinjaman hingga 3 Miliar dengan jaminan sertifikat rumah. Untuk informasi produk dan pengajuan, klik link berikut ini. 

Contoh Kredit Produktif 

Kredit Produktif - KPR

Adapun beberapa contoh kredit produktif yang biasanya dimanfaatkan oleh sebagian besar orang. 

Kredit Kepemilikan Rumah (KPR)

KPR adalah salah satu kredit yang disediakan oleh bank untuk membantu masyarakat memiliki hunian dengan metode pembayaran dicicil setiap bulannya sesuai waktu yang telah disepakati. Mengapa jenis kredit ini dapat dikatakan sebagai kredit produktif? Jawabannya karena ketika rumah KPR tersebut lunas, maka rumah tersebut dapat menjadi aset yang dapat menghasilkan seperti dijual, disewakan, atau sebagai jaminan pinjaman usaha. 

Kredit Usaha 

Contoh kredit produktif yang paling banyak ditemui adalah kredit usaha, dimana uang pinjaman akan diputar kembali untuk menghasilkan pendapatan lain. Kredit Modal Kerja atau KMK juga termasuk dalam contoh kredit produktif. 

Hal yang Perlu Dipertimbangkan Saat Kredit 

Kredit produktif memiliki nilai yang bermanfaat mengingat terdapat peluang untuk mendapatkan penghasilan lebih banyak dibanding jumlah pinjaman yang diajukan. Namun, sebelum mengajukan kredit produktif, pastikan Anda memperhatikan dan mempertimbangkan dua hal berikut ini. 

Pilih Produk yang Sesuai 

Jika Anda berniat mengajukan pinjaman untuk keperluan bisnis, maka pastikan memilih produk yang sesuai. Sebaagai contoh, Anda berkenan membuka usaha atau bisnis laundry dengan modal di bawah Rp 10 juta. Maka, Anda bisa mengajukan modal usaha dengan jumlah pinjaman sekitar Rp 9-10 juta saja. Untuk lembaga yang dituju, Anda bisa mengajukan pinjaman di lembaga pinjaman online legal atau rumah pembiayaan seperti BFI Finance dengan jaminan BPKB kendaraan. 

Perhitungan Untung dan Rugi 

Berikutnya adalah perhitungan untung dan rugi. Sebaiknya lakukan hal ini sebelum menentukan jenis bisnis yang akan dijalani. Setelah itu, pilih lembaga penyedia kredit produktif yang memiliki kelebihan seperti adanya promo, bunga rendah, tenor panjang, dan ketentuan lain seperti restrukturisasi kredit jika sewaktu-waktu bisnis yang dijalankan mengalami hambatan. 

Spesial di bulan HUT BFI Finance, BFI Finance bagi-bagi hadiah berupa cashback uang tunai bagi debitur yang melakukan pengajuan dengan jaminan sertifikat rumah atau BPKB kendaraan. Informasi lebih lanjut, silakan cek link berikut. 

Cashback Pengajuan Pinjaman Jaminan BPKB Kendaraan 

Cashback Pengajuan Pinjaman Jaminan Sertifikat Rumah

Tips Terhindar dari Gagal Bayar 

Kredit Produktif

Tidak bisa dihindari bahwa keuntungan yang besar memiliki risiko kehilangan atau kegagalan yang besar. Memulai bisnis juga bukan sesuatu yang mudah, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan, karena saat memulai bisnis keinginan untuk sukses harus lebih besar dari rasa takut akan kegagalan. Agar bisnis berjalan dengan lancar dan angsuran kredit produktif tetap aman, tips ini mungkin bisa membantu Anda. 

Hemat 

Walaupun memiliki modal cukup dan pendapatan yang lumayan, Anda tetap harus berhemat dan sebaiknya menyimpan sisa keuntungan sebagai dana darurat jika sewaktu-waktu usaha yang dijalankan mengalami penurunan baik dari sisi omzet maupun minat pembeli. 

Monitoring dan Evaluasi Keuntungan Bisnis 

Pastikan juga untuk selalu memantau arus keuangan bisnis dan mengevaluasinya pada periode waktu yang telah ditentukan. Dengan melakukan monitoring dan evaluasi, Anda dapat menciptakan strategi baru untuk keberlangsungan bisnis Anda. 

Pisahkan Uang Usaha dengan Pribadi 

Yang terkahir adalah tidak mencampurkan uang pendapatan pribadi dengan keuangan bisnis. Selain dapat saling terpakai, hal ini bertujuan untuk melihat pertumbuhan keuangan bisnis Anda. 

Demikian informasi mengenai kredit produktif dari BFI Finance untuk Sobat BFI. Jadi, tidak ada salahnya berhutang selama hutang tersebut dikatakan sehat dan dapat menghasilkan. Semoga artikel ini bermanfaat! 

Informasi produk yang tersedia di BFI Finance dan pengajuan, klik di sini. 

Sumber: