Artikel

Jaga Kesehatan Mental, Mari Mengenal Lebih Dekat Toxic Positivity

2022-08-24 00:00:00 1041
Jaga Kesehatan Mental, Mari Mengenal Lebih Dekat Toxic Positivity

Berpikir positif merupakan sesuatu yang baik. Hanya saja, jika dilakukan secara berlebihan dapat menjadi boomerang yang justru mengancam kesehatan mental kita.

Istilah ini lazim disebut dengan toxic positivity. Toxic positivity adalah suatu kondisi di mana seseorang menolak untuk merasakan emosi negatif yang menghampirinya dan terus menerus menekan emosi tersebut dengan cara tetap berpikir positif.

Tidak hanya itu, toxic positivity juga bisa diartikan sebagai kata penyemangat atau motivasi yang memiliki efek beracun dan merusak karena kata-kata yang terlontar justru menyakiti lawan bicara.

Untuk memudahkan Anda dalam memahami toxic positivity, efek negatif, serta tips menghindarinya, mari kita simak penjelasan berikut ini.

 

Apa Itu Toxic Positivity?

Istilah toxic positivity belakangan ini cukup sering digunakan terutama saat tengah membahas tentang kesehatan mental.

Toxic positivity adalah suatu tindakan di mana seseorang menyangkal emosi negatif yang ia rasakan. Contohnya rasa marah, kesal, sedih, kecewa, dan lain sebagainya. Emosi ini sengaja ditekan karena dianggap sebagai hal buruk atau emosi yang perlu disembunyikan.

Sayangnya, jika emosi ini terus menerus ditekan dalam kurun waktu yang lama, emosi tersebut akan sangat berbahaya dan menyebabkan hal yang cukup fatal.

Hal ini dikarenakan penyangkalan terhadap emosi negatif yang dirasakan seseorang akan mengakibatkan beragam masalah kesehatan. Diantaranya yaitu stres, gangguan tidur, kecemasan, perasaan sedih yang berkepanjangan, depresi, penggunaan obat terlarang, bahkan PTSD (post-traumatic stress disorder).

Selain terhadap diri sendiri, toxic positivity juga bisa datang dari orang lain. Contoh sederhananya yaitu pada saat kita bercerita tentang hal sulit yang kita lalui. Alih-alih mendapat kata motivasi yang membantu menenangkan pikiran, lawan bicara kita justru melontarkan kalimat yang menyakitkan.

Beberapa ekspresi yang kerap digunakan dalam toxic positivity antara lain, “Jangan menyerah, masih banyak orang lain yang lebih susah”, “masalahmu tidak ada apa-apanya ketimbang si A”, “Anda masih lebih mending, dulu saya jauh lebih sulit”.

Meskipun terkesannya sepele, kalimat tersebut memiliki dampak yang cukup berpengaruh terhadap cara pandang kita pada diri sendiri, perasaan rendah diri, merasa emosi yang muncul tidak valid, dan lain sebagainya. Hal ini tentunya berpotensi meracuni kita yang berujung pada gangguan kesehatan mental.

Bagaimana Cara Mengenali Toxic Positivity?

Toxic positivity dapat dikenali dari cara bicara seseorang, tepatnya dari kata-kata yang dilontarkan. Mungkin orang tersebut memang berniat baik untuk memberikan motivasi terhadap lawan bicaranya namun tanpa ia sadari yang keluar dari ucapannya justru kata-kata yang merendahkan dan membuat orang sakit hati.

Adapun ciri lainnya dari toxic positivity bisa kita lihat seperti di bawah ini.

1. Tidak Jujur Dengan Perasaan Diri Sendiri / Bersikap Denial

Toxic positivity adalah sebuah sikap di mana kita merespon apa yang kita rasakan secara berlebihan. Hal ini menimbulkan keengganan untuk mengakui apa yang sebenarnya kita rasakan karena beranggapan jika emosi negatif tidak sebaiknya dirasakan.

Contohnya berpura-pura bahagia padahal sedang mengalami rasa sedih yang teramat.

2. Cenderung Menghindari Masalah

Ciri yang kedua jika seseorang tengah mengalami toxic positivity yaitu ada kecenderungan untuk menghindari masalah. Hal ini dikarenakan masalah yang muncul dalam hidupnya cenderung membawa emosi negatif seperti perasaan kecewa, marah, kesal, sedih, dan lain sebagainya.

Alhasil, demi menghindari perasaan negatif yang timbul dari adanya masalah tersebut, oarang tersebut akan berusaha untuk menghindari masalah yang ada dan berpikir bahwa masalah tersebut tidak benar-benar terjadi.

3. Memberikan Motivasi yang Justru Menyakiti Orang Lain

Ciri berikutnya dari orang yang mengalamitoxic positivity yaitu cenderung menghakimi orang lain lewat kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Pernahkah Anda bercerita kepada seseorang atau curhat namun bukannya menjadi tenang tapi justru semakin gelisah dan sakit hati karena dihakimi atau dibanding-bandingkan? Hal tersebut merupakan ciri-ciri dari toxic positivity! 

4. Suka Membandingkan Diri Sendiri Dengan Orang Lain

Hati-hati jika suka membandingkan diri dengan orang lain. Kebiasaan ini adalah satu tanda seseorang mengalami toxic positivity!

Misalnya, saat hendak memotivasi orang lain, mereka yang memiliki toxic positivity cenderung membandingkan lawan bicaranya dengan orang lain yang mereka anggap mengalami kejadian yang lebih parah seperti “Lihat, dia saja yang tidak sempurna bisa melakukannya,  masa Anda tidak?”, “Sebetulnya Anda itu mampu tapi sayang sekali mudah menyerah.”

5. Kesulitan Dalam Mengontrol Emosi

Ciri yang kelima yaitu kesulitan dalam mengontrol emosi. Orang dengan toxic positivity cenderung berpikiran segala sesuatunya harus dihadapi dengan positif dan tanpa sadar merasa kesulitan untuk memahami emosi yang terjadi pada dirinya sehingga lebih mudah merasa cemas, was-was, dan tidak tenang.

Toxic Positivity

Image Source: Pexels/Liza Summer

Efek Negatif Adanya Toxic Positivity

Jika terus menerus dibiarkan, toxic positivity memiliki efek yang sangat serius. Efek tersebut antara lain sebagai berikut.

1. Mudah terkena stres

2. Merasa paling benar

3. Mengalami kesulitan dalam bersosialisasi

4. gangguan kesehatan mental

5. Mudah merasa gelisah dan penakut (anxiety)

Tips Menghindari Toxic Positivity

Untuk menghindari sikap toxic ini, Anda bisa mengikuti 5 tips bermanfaat berikut ini.

1. Jujur Terhadap Perasaan Diri Sendiri

Jujur memiliki arti merasakan dengan sepenuh hati emosi yang tengah kita rasakan. Apapun itu emosinya; sedih, senang, marah, kecewa, semua emosi tersebut adalah sesuatu yang normal dirasakan oleh manusia.

Kita bisa meluapkan apa yang tengah dirasakan dengan berbicara atau curhat pada orang terdekat yang bisa kita percaya. Jika hal itu kurang membuat Anda nyaman, Anda bisa menuliskannya di buku atau catatan pribadi.

Perbanyakn juga emotional support dari mereka yang memang mengerti kondisi kita dengan pandangan yang objektif, hindari berinteraksi dengan orang-orang yang sekiranya memberikan toxic positivity.

2. Berusaha Untuk Memahami

Berusahalah memahami diri sendiri dan orang di sekitar kita, cobalah untuk mendengarkan. Jika seandainya kita tidak mampu memberikan solusi, cobalah untuk menghindari kata-kata yang kurang mengenakan.

Sebab, satu kata yang kurang sesuai dapat memberikan efek yang menyakitkan bagi pendengar. Jangan pula merasa perlu mengadu nasib saat seseorang bercerita pada kita. Pahami bahwa kita tidak bisa mengontrol orang lain. Lebih baik kita menjadi pendengar yang baik, bertanya apa yang tengah dirasakan, daripada kita berusaha memberikan solusi.

3. Hindari Membandingkan-Bandingkan Diri Dengan Orang Lain

Berhentilah membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Sebab, apa yang dihadapi oleh diri kita dan orang lain adalah sesuatu yang berbeda, kita tidak akan pernah bisa merasakan sepenuhnya apa yang sedang dihadapi orang lain.

4. Kurangi Konsumsi Sosial Media

Terlalu sering bermain sosial media terbukti dapat menyebabkan stres. Hal ini dikarenakan postingan yang ada terkait kebahagiaan dan sesuatu yang nampak baik-baik saja dapat menimbulkan perasaan insecure dan mulai membanding-bandingkan kehidupan orang lain dengan diri sendiri.

Tidak hanya itu, terlalu sering bermain sosial media juga dapat menganggu kesehatan tubuh kita salah satunya yaitu mata akibat terlalu sering menatap layar.

Hindari orang-orang yang sering membuat postingan negatif atau justru memprovokasi (triggering) emosi Anda. Selalu tanamkan dalam diri jika apa yang kita lihat di dunia maya tidak sepenuhnya benar karena setiap orang selalu ingin memiliki image atau citra diri yang baik.

Di samping itu, ketimbang menghabiskan banyak waktu untuk bermain sosial media, Anda bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk melakukan aktivitas produktif nan positif. Seperti halnya mengembangkan hobi atau belajar hal baru.

5. Berdamai Dengan Diri Sendiri

Tips yang terakhir sekaligus menjadi salah satu tips yang terpenting yaitu berdamai dengan diri sendiri.  Belajar memahami, menghargai, serta mencintai diri sendiri sebaik mungkin, salah satu caranya yaitu dengan mendengarkan isi hati.

Jika kita sulit memahami dan berdamai dengan diri sendiri, bagaimana mungkin kita bisa menolong dan memahami orang lain?

Sobat BFI, itulah penjelasan artikel kali ini mengenai toxic positivity. Tidak apa-apa jika kita merasa tidak baik-baik saja, apa yang Anda rasakan adalah emosi yang valid. Tidak perlu menyangkalnya ataupun pura-pura bahagia.

Jika Anda membutuhkan pinjaman dana cepat untuk kesehatan maupun kebutuhan mendesak lainnya, Anda bisa mengajukannya di BFI Finance!

Klik laman web di bawah ini untuk informasi lebih lanjut!

Informasi Pengajuan Pinjaman Jaminan BPKB Motor

Informasi Pengajuan Pinjaman Jaminan BPKB Mobil

Informasi Pengajuan Pinjaman Jaminan Sertifikat Rumah

Tidak hanya itu, Anda juga berkesempatan mendapatkan cashback hingga Rp 77 Juta Rupiah dengan promo  #PastiMerdeka! Ketentuan selengkapnya dapat diakses melalui tautan berikut ini, ya!


Temukan artikel bermanfaat lainnya di BFI Blog. Update setiap Senin-Jumat

Sumber: